Benarkah Air Laut Sepenuhnya Berasal dari Bumi?

  • 23 Jun 2026 20:09 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Misteri mengenai dari mana datangnya air yang mengisi samudra luas di Bumi telah lama menjadi teka-teki besar bagi para ilmuwan dunia. Selama bertahun-tahun, banyak orang meyakini bahwa seluruh air di planet kita murni berasal dari proses internal Bumi purba, seperti uap air yang disemburkan oleh gunung berapi raksasa. Namun, sebuah penelitian revolucioner yang dipimpin oleh Dr. Paul Hartogh dari Max Planck Institute for Solar System Research membawa sudut pandang baru yang mengejutkan. Penelitian tersebut mengungkap bahwa air di Bumi kemungkinan besar memiliki asal-usul kosmik, menantang anggapan lama bahwa laut sepenuhnya lahir dari dalam perut planet kita sendiri.

Untuk menguji teori tersebut, fokus utama penelitian tertuju pada benda langit dari luar angkasa, salah satunya adalah Komet 103P/Hartley 2 yang berasal dari rumpun sabuk Kuiper. Menggunakan instrumen sensitif pada Teleskop Luar Angkasa Herschel milik Badan Antariksa Eropa (ESA), para peneliti berhasil menganalisis tanda kimiawi dari uap air yang dilepaskan oleh komet tersebut saat mendekati Matahari. Hasil analisis ini menjadi sangat krusial karena untuk pertama kalinya manusia bisa mengintip komposisi kimia dari es yang tersimpan di dalam badan komet secara akurat, guna membandingkannya dengan air yang ada di Bumi.

Kunci utama untuk menjawab apakah air laut murni dari Bumi terletak pada pengukuran rasio antara hidrogen biasa dan deuterium (hidrogen berat) di dalam es komet tersebut. Rasio deuterium terhadap hidrogen (D/H) bertindak layaknya "sidik jari kimiawi" yang unik untuk air di alam semesta. Selama bertahun-tahun, ilmuwan selalu gagal mencocokkan air Bumi dengan komet lain karena komet-komet tersebut memiliki kadar deuterium yang terlalu tinggi. Namun, Komet Hartley 2 mengejutkan dunia sains karena memiliki rasio kimiawi yang sangat mirip, bahkan hampir identik, dengan karakteristik air yang mengisi samudra Bumi saat ini.

Penemuan kecocokan kimiawi ini secara langsung memperkuat teori bahwa laut kita tidak sepenuhnya berasal dari Bumi, melainkan dibantu oleh peristiwa Late Heavy Bombardment (Pengeboman Berat Akhir). Sekitar 4 miliar tahun yang lalu, tata surya kita mengalami fase kekacauan di mana miliaran komet dan asteroid kaya es keluar dari orbitnya dan menghujani planet-planet bagian dalam, termasuk Bumi. Ketika komet-komet es berukuran raksasa ini menabrak permukaan Bumi secara bertubi-tubi, es yang mereka bawa mencair dan menguap akibat panasnya tabrakan, menciptakan lapisan atmosfer tebal yang kemudian turun sebagai hujan global selama jutaan tahun.

Melalui bukti ilmiah dari Komet Hartley 2, jawaban atas pertanyaan mengenai asal-usul laut kini telah bergeser secara fundamental. Lautan luas yang kita lihat hari ini bukanlah hasil dari proses geologis internal Bumi semata, melainkan sebuah warisan kosmik yang luar biasa dari ruang angkasa. Penemuan ini membuktikan bahwa Bumi tidak sendirian dalam menciptakan samudra birunya; kosmos di luar sana turut menyumbang bahan baku air dalam jumlah masif, yang pada akhirnya membentuk samudra luas dan memungkinkan kehidupan berkembang di planet kita. (nationalgeographic)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....