Sannakji: Sensasi Ekstrem Mengunyah Kuliner Gurita Hidup khas Korea Selatan

  • 31 Mei 2026 13:47 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Bagi para pencinta petualangan kuliner, Korea Selatan menawarkan sebuah hidangan ikonik yang menguji nyali dan batas keberanian bernama sannakji. Hidangan ini sekilas tampak sederhana, namun mampu memicu adrenalin siapa saja yang memesannya. Sannakji merupakan kuliner tradisional berupa gurita muda yang dipotong-potong dalam keadaan sangat segar, lalu disajikan secara instan di atas piring dengan siraman minyak wijen yang harum serta taburan biji wijen. Keunikan sekaligus daya tarik utama hidangan ini terletak pada potongan-potongan tentakelnya yang masih aktif bergerak dan menggeliat lincah saat dihidangkan di depan mata.

Fenomena gerakan "hidup" pada sannakji ini sebenarnya bersumber dari karakteristik biologis gurita yang sangat unik dan mengagumkan. Berbeda dengan manusia, sebagian besar sistem saraf gurita tidak berpusat di otak, melainkan tersebar di sepanjang lengan atau tentakelnya. Sistem saraf otonom yang kompleks ini tetap berfungsi mengirimkan sinyal gerak bahkan setelah tentakel tersebut terpisah dari tubuh utamanya. Akibatnya, meskipun gurita sudah mati secara klinis, sel-sel saraf pada potongannya masih terus bereaksi terhadap rangsangan luar, menciptakan ilusi visual seolah-olah hidangan tersebut menolak untuk dimakan.

Pengalaman menyantap sannakji memberikan sensasi taktil yang luar biasa ekstrem dan tidak akan ditemukan pada makanan lain. Saat jepitan sumpit mengantar potongan tentakel itu ke dalam mulut, alat-alat penghisap kecil yang ada di sepanjang lengan gurita akan langsung menempel erat pada lidah, gusi, dan dinding pipi bagian dalam. Mengunyah sannakji membutuhkan konsentrasi dan kunyahan yang kuat agar cangkir-cangkir penghisap tersebut melepaskan cengkeramannya, menghasilkan perpaduan tekstur daging yang kenyal, rasa gurih-manis alami dari laut, serta aroma pekat dari minyak wijen.

Di balik keunikan dan kelezatannya, hidangan eksotis ini menuntut kewaspadaan tinggi karena membawa risiko keselamatan yang nyata. Jika tidak dikunyah hingga benar-benar halus, tentakel yang masih aktif bergerak dapat menempel di tenggorokan dan menyumbat jalan napas, yang berpotensi menyebabkan kasus tersedak hingga fatalitas. Oleh karena itu, para koki lokal biasanya memotong gurita menjadi bagian yang sangat kecil demi keamanan, dan para penikmat kuliner disarankan untuk meminum banyak air atau bir lokal agar permukaan tenggorokan menjadi licin saat menelannya.

Terlepas dari kontroversi dan kesan ekstrem yang melekat padanya, sannakji tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya kuliner pesisir Korea Selatan yang sangat dihargai. Hidangan ini merefleksikan apresiasi mendalam masyarakat setempat terhadap kesegaran bahan makanan yang murni langsung dari laut. Menikmati sepiring sannakji bukan sekadar tentang urusan mengisi perut, melainkan sebuah ritual keberanian, perayaan atas keajaiban biologi laut, dan pengalaman gastronomi tak terlupakan yang mengaburkan batas antara sains dan seni memasak. tasteatlas.com

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....