Nyale: Hidangan Eksotis Cacing Laut Suci dari Pesisir Sasak dan Sumba

  • 31 Mei 2026 13:28 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Bagi sebagian besar orang, cacing laut mungkin bukanlah sesuatu yang lazim untuk tersaji di atas piring. Namun, di pesisir Pulau Lombok dan Sumba, Indonesia, makhluk invertebrata laut ini bertransformasi menjadi salah satu hidangan paling eksotis, langka, dan sakral yang dikenal sebagai Nyale. Kemunculannya yang misterius—hanya satu kali dalam setahun—membuat cacing laut warna-warni ini tidak sekadar menjadi bahan pangan pengganjal lapar, melainkan sebuah komoditas kuliner berharga yang menyatukan ribuan orang dalam pesta panen raya di tepi samudra.

Keberadaan Nyale tidak dapat dipisahkan dari legenda budaya yang mengakar kuat, terutama dalam tradisi Bau Nyale milik masyarakat suku Sasak di Lombok. Menurut kepercayaan lokal, cacing-cacing laut ini merupakan penjelmaan dari rambut Putri Mandalika, seorang putri raja yang sangat cantik yang memilih menerjunkan diri ke laut selatan demi mencegah perpecahan antar-pangeran yang memperebutkannya. Oleh karena itu, kehadiran makhluk ini di pesisir pantai tidak pernah dianggap sebagai fenomena biologi biasa, melainkan sebuah restu dan berkah suci yang melimpah dari alam.

Secara ekologis, fenomena tahunan ini terjadi ketika cacing laut dari famili Eunicidae melakukan pembuahan massal (swarming) di bawah pengaruh siklus bulan, biasanya pada bulan Februari atau Maret. Pada momen kritis tersebut, jutaan cacing laut dengan variasi warna hijau, merah, cokelat, hingga kekuningan akan muncul ke permukaan air laut dangkal menjelang fajar. Di saat itulah, warga dari berbagai usia tumpah ruah ke laut lepas dengan berbekal jaring dan penerangan seadanya, berkejaran dengan waktu untuk mengumpulkan Nyale sebanyak-banyaknya sebelum matahari terbit dan cacing-cacing tersebut hancur terkena sinar surya.

Di tangan masyarakat lokal, hasil panen Nyale diolah menjadi berbagai variasi hidangan tradisional yang menggugah selera. Tekstur dagingnya yang lembut tanpa tulang membuatnya sangat fleksibel untuk dimasak; mulai dari ditumis dengan bumbu pedas, digoreng kering, diolah menjadi pepes berbalut daun pisang (bale nyale), hingga dibakar di atas bara api. Bagi para petualang kuliner yang bernyali besar, Nyale bahkan kerap dikonsumsi secara mentah-mentah sesaat setelah ditangkap, cukup dengan bumbu sederhana berupa perasan jeruk nipis segar untuk mempertahankan cita rasa gurih laut yang murni.

Di balik tampilannya yang tidak biasa, hidangan eksotis ini ternyata menyimpan kandungan protein dan asam amino yang sangat tinggi, menjadikannya sumber gizi yang luar biasa bagi masyarakat pesisir. Lebih dari sekadar urusan perut, mencicipi Nyale adalah cara manusia modern menghormati sebuah harmoni lama antara mitos, siklus alam, dan tradisi nusantara yang masih terjaga. Ketika sepiring Nyale dihidangkan, yang tersaji bukan hanya makanan, melainkan sepotong kisah pengorbanan legendaris yang lezat dari kedalaman samudra Indonesia. mongabay.co.id

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....