Alasan di Balik Popularitas Bulu Babi sebagai Hidangan Mewah

  • 31 Mei 2026 13:04 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Bulu babi atau yang lebih dikenal secara global sebagai sea urchin (dan uni dalam dunia kuliner Jepang) kini telah bergeser dari makhluk laut yang dihindari karena durinya yang tajam menjadi salah satu komoditas hidangan mewah yang paling dicari di dunia. Bagi sebagian orang, tampilan luar makhluk ini mungkin tampak mengerikan dan tidak meyakinkan untuk dikonsumsi. Namun, di balik benteng pertahanan durinya yang kaku, bulu babi menyimpan bagian dalam yang sangat berharga dan telah memikat lidah para pencinta kuliner dari berbagai penjuru dunia selama berabad-abad.

Daya tarik utama yang membuat bulu babi begitu digilai terletak pada keunikan rasa dan teksturnya yang tidak bisa disamakan dengan makanan laut lainnya. Bagian yang dikonsumsi dari bulu babi sebenarnya bukanlah telur, melainkan gonad atau organ reproduksinya yang berwarna kuning keemasan hingga jingga. Ketika masuk ke dalam mulut, gonad ini menawarkan tekstur yang luar biasa lembut dan langsung meleleh di lidah layaknya mentega premium. Dari segi rasa, hidangan ini menyajikan perpaduan kompleks antara rasa manis yang samar, kesegaran asin khas samudra, dan ledakan rasa gurih alami atau umami yang pekat.

Selain memanjakan lidah, bulu babi juga digemari karena kandungan nutrisinya yang sangat melimpah dan bermanfaat bagi tubuh. Makanan laut ini dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang rendah kalori, menjadikannya pilihan ideal untuk asupan energi tanpa lemak berlebih. Di dalamnya terkandung pula asam lemak omega-3 yang sangat baik untuk menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi otak. Tidak ketinggalan, kadar seng (zinc) yang tinggi serta deretan vitamin penting di dalam daging bulu babi juga berperan aktif dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh manusia.

Tingginya harga dan status kemewahan bulu babi di restoran kelas atas juga dipengaruhi oleh tingkat kesulitan dalam proses pemanenan dan penyajiannya. Karena hidup di celah-celah karang, sebagian besar bulu babi berkualitas tinggi harus diambil secara manual satu per satu oleh para penyelam tradisonal tanpa bantuan alat berat agar cangkangnya tidak hancur. Setelah mendarat di dapur, proses pembersihan duri dan pemisahan gonad dari dinding cangkang bagian dalam membutuhkan ketelitian serta keterampilan tangan yang sangat presisi agar bentuknya tetap utuh dan estetik saat disajikan.

Menariknya, tren mengonsumsi bulu babi saat ini tidak hanya berbicara tentang urusan perut dan kemewahan, melainkan juga tentang upaya penyelamatan lingkungan laut. Di beberapa belahan dunia, populasi bulu babi sempat meledak tanpa kendali akibat hilangnya predator alami mereka, yang memicu penggundulan hutan kelp (ganggang laut raksasa) di dasar samudra. Melalui kampanye kuliner yang berkelanjutan, aktivitas memanen dan mengonsumsi bulu babi kini dipandang sebagai langkah ekologis yang cerdas untuk mengontrol populasi mereka, sekaligus membantu memulihkan kembali keseimbangan ekosistem pesisir yang terancam. hm.ac.uk

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....