Alasan Medis dan Ekologis Mengapa Manusia Tidak Mengonsumsi Hiu
- 28 Mei 2026 15:35 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Secara medis dan ekologis manusia sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi hiu. Hiu merupakan salah satu organisme laut yang membawa risiko kesehatan paling besar bagi tubuh manusia jika daging atau siripnya diolah menjadi makanan. Di balik reputasinya sebagai predator yang tangguh, jaringan tubuh hiu menyimpan berbagai kandungan zat kimia alami maupun polutan yang dapat memicu dampak buruk jangka pendek hingga penyakit kronis yang mematikan.
Faktor utama yang membuat daging hiu sangat berbahaya untuk dikonsumsi adalah adanya proses bioakumulasi logam berat yang sangat tinggi. Sebagai predator puncak yang berada di bagian paling atas rantai makanan lautan, hiu memangsa ribuan ikan lain sepanjang hidupnya yang bisa mencapai puluhan tahun. Akibatnya, seluruh racun dan polutan seperti merkuri (metilmerkuri), arsenik, dan timbal yang ada pada mangsanya akan menumpuk berlipat ganda di dalam jaringan otot hiu. Racun logam berat ini terikat sangat kuat pada protein daging hiu dan tidak akan hilang atau berkurang sedikit pun meskipun telah dimasak dengan suhu tinggi, digoreng, maupun direbus.
Selain penumpukan logam berat, hiu juga memiliki karakteristik biologis unik yang memproduksi kandungan urea sangat tinggi di dalam tubuhnya. Sebagai hewan laut, hiu mempertahankan keseimbangan cairan tubuhnya dengan cara menyimpan urea—yang merupakan zat sisa urin—di dalam darah dan jaringan daging mereka. Begitu hiu mati, zat urea ini akan dengan cepat terurai menjadi amonia, sehingga daging hiu mentah umumnya mengeluarkan bau pesing yang sangat menyengat seperti air seni. Jika tidak melewati proses pengolahan yang sangat ekstrem seperti direndam susu atau air asam, daging ini tidak hanya terasa tidak enak tetapi juga dapat memicu mual serta keracunan.
Dari sudut pandang medis yang lebih mendalam, para peneliti juga menemukan adanya ancaman penyakit neurodegeneratif akibat zat berbahaya lain di dalam tubuh hiu. Jaringan tubuh hiu sering kali terkandung neurotoksin bernama BMAA (cyanobacterial biomolecule), sebuah zat yang secara ilmiah terbukti dapat merusak sel saraf manusia dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif otak jangka panjang seperti Alzheimer dan Parkinson. Karena tingginya akumulasi racun ini, konsumsi daging hiu sangat dilarang keras bagi kelompok rentan seperti anak-anak, wanita menyusui, dan ibu hamil, karena merkuri di dalamnya dapat dengan mudah menembus plasenta lalu merusak perkembangan otak serta sistem saraf janin.
Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan manusia, mengonsumsi hiu juga membawa kerusakan yang masif terhadap ekosistem laut global. Perburuan hiu secara besar-besaran, terutama dalam perdagangan sup sirip hiu (shark fin soup), telah mendorong banyak spesies predator ini ke ambang kepunahan. Sebagai pengontrol populasi di lautan, hilangnya hiu akan merusak seluruh tatanan rantai makanan di bawahnya, memicu ledakan populasi ikan tertentu, dan pada akhirnya menghancurkan kesehatan terumbu karang. Oleh karena itu, menjauhi konsumsi hiu dan beralih ke alternatif ikan konsumsi lain yang lebih aman seperti kembung atau salmon merupakan langkah bijak untuk kesehatan diri sekaligus kelestarian bumi.( www.sharks.org)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....