Paliktoksin dapat ditemukan pada koral lunak atau anemon laut

  • 26 Mei 2026 09:08 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - PLTX atau Paliktoksin (Palytoxin) adalah salah satu senyawa racun non-protein alami yang paling mematikan dan kompleks di dunia. Toksin ini pertama kali diisolasi dari sejenis koral lunak atau anemon laut dari genus Palythoa di Hawaii, namun kini diketahui juga dapat ditemukan pada berbagai organisme laut lainnya, seperti alga dinoflagelata dari genus Ostreopsis serta beberapa jenis ikan dan kepiting. Karena tingkat toksisitasnya yang luar biasa tinggi, paparan senyawa ini dalam dosis yang sangat kecil sekalipun—baik melalui kontak kulit, terhirup melalui uap air, maupun tertelan—dapat berakibat fatal bagi manusia dan hewan.

Mekanisme kerja paliktoksin sangat merusak karena secara spesifik menyerang molekul vital sel, yaitu pompa natrium-kalium ($Na^+/K^+-ATPase$). Dalam kondisi normal, pompa ini berfungsi menjaga keseimbangan gradien ion yang penting untuk fungsi seluler. Namun, paliktoksin mengikat molekul pompa tersebut dan mengubahnya menjadi saluran terbuka tanpa kendali. Akibatnya, ion natrium dan kalium mengalir bebas melintasi membran sel, menghancurkan gradien elektrokimia sel, dan menyebabkan kematian sel secara massal. Proses ini memicu kerusakan jaringan yang parah, terutama pada otot dan sistem saraf.

Secara klinis, salah satu dampak paling berbahaya dari paparan paliktoksin adalah terjadinya rabdomiolisis, yaitu kondisi di mana jaringan otot rangka mengalami kerusakan akut dan cepat hancur. Ketika sel-sel otot hancur, mereka melepaskan protein mioglobin ke dalam aliran darah dalam jumlah besar, yang dapat menyumbat ginjal dan memicu gagal ginjal akut. Gejala awal yang dirasakan korban biasanya meliputi nyeri dada yang hebat, kesulitan bernapas, kejang otot, takikardia (denyut jantung cepat), hingga penurunan tekanan darah secara drastis dalam waktu singkat setelah terpapar.

Di lingkungan perairan, paliktoksin dapat masuk ke dalam rantai makanan laut dan terakumulasi pada biota tertentu. Beberapa kasus keracunan makanan yang fatal pada manusia terjadi setelah mengonsumsi ikan atau kepiting yang telah memakan alga pembawa toksin ini. Selain melalui makanan, ancaman paliktoksin juga sering dihadapi oleh para penghobi akuarium air laut. Ketika mereka membersihkan koral jenis Palythoa atau Zoanthus menggunakan air hangat, racun ini dapat menguap bersama uap air dan terhirup, menyebabkan gangguan pernapasan akut yang menyerupai gejala flu parah bagi orang-orang di dalam ruangan.

Hingga saat ini, belum ada zat penawar (antidote) spesifik yang ditemukan untuk menetralisir racun paliktoksin di dalam tubuh manusia. Penanganan medis yang diberikan umumnya bersifat suportif dan simtomatik, yang berfokus pada menjaga fungsi pernapasan, menstabilkan detak jantung, serta melakukan hidrasi intensif untuk melindungi ginjal dari kerusakan akibat mioglobin. Oleh karena itu, langkah pencegahan seperti menggunakan alat pelindung diri saat menangani koral akuarium dan menghindari konsumsi hasil laut dari wilayah yang sedang mengalami fenomena pasang merah (red tide) menjadi kunci utama untuk menghindari bahaya mematikan dari toksin ini.(researchgate.net)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....