Gymnosomata, mendapatkan julukan Malaikat, meskipun perilaku asli sebaliknya
- 26 Mar 2026 16:48 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Malaikat laut, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Gymnosomata, adalah kelompok siput laut holoplanktonik yang sangat unik karena mereka menghabiskan seluruh siklus hidupnya berenang bebas di kolom air. Berbeda dengan kerabat dekatnya, sea butterfly (Thecosomata), malaikat laut dewasa sama sekali tidak memiliki cangkang. Tubuh mereka transparan dan memanjang menyerupai bentuk tabung kecil, dengan sepasang sirip menyerupai sayap yang mengepak secara ritmis. Karena penampilannya yang bercahaya dan gerakannya yang anggun di dalam air, mereka mendapatkan julukan "malaikat", meskipun perilaku aslinya jauh dari kesan tersebut.
Keunikan anatomi utama dari malaikat laut terletak pada parapodia, yaitu modifikasi kaki siput yang berubah menjadi sayap lateral yang kuat untuk berenang. Mereka tidak memiliki insang eksternal, melainkan melakukan pertukaran gas langsung melalui permukaan kulit mereka yang tipis. Di bagian kepala, mereka memiliki organ sensorik yang sangat sensitif untuk mendeteksi mangsa di kegelapan laut. Sebagian besar spesies Gymnosomata berukuran sangat kecil, biasanya hanya sekitar 1 hingga 5 sentimeter, namun mereka mampu bertahan hidup di perairan yang sangat dingin, mulai dari kutub hingga samudra tropis.
Dibalik penampilannya yang cantik, malaikat laut adalah predator spesialis yang sangat ganas. Makanan utama mereka hampir eksklusif adalah sea butterfly (siput laut bercangkang). Saat mendeteksi mangsa, "wajah" malaikat laut akan terbuka dan mengeluarkan enam tentakel pengait yang disebut buccal cones. Tentakel ini akan mencengkeram cangkang mangsanya dengan kuat, kemudian menggunakan lidah bergerigi (radula) untuk menarik tubuh mangsa keluar dari cangkangnya dan menelannya bulat-bulat. Transformasi dari bentuk malaikat yang tenang menjadi predator dengan tentakel pengait ini adalah salah satu pemandangan paling dramatis di dunia mikro laut.
Sebagai hewan hermafrodit, setiap individu malaikat laut memiliki organ reproduksi jantan dan betina sekaligus. Proses perkawinan mereka biasanya dilakukan secara massal di kolom air, di mana mereka akan saling membuahi satu sama lain. Setelah pembuahan, mereka melepaskan massa telur terapung yang berbentuk seperti jeli. Larva yang baru menetas sebenarnya memiliki cangkang kecil, namun cangkang tersebut akan segera terlepas dalam beberapa hari seiring dengan perkembangan mereka menuju fase dewasa yang bertubuh lunak dan lincah.
Kelestarian malaikat laut saat ini menjadi perhatian serius para ilmuwan karena fenomena pengasaman samudra. Meskipun mereka sendiri tidak memiliki cangkang, sumber makanan utama mereka (sea butterfly) sangat bergantung pada kalsium karbonat untuk membentuk cangkangnya. Jika air laut menjadi terlalu asam, cangkang mangsa mereka akan melarut, yang secara otomatis mengancam ketersediaan pangan bagi malaikat laut. Keberadaan mereka di lautan bukan hanya sekadar hiasan visual, melainkan indikator penting bagi kesehatan ekosistem laut dalam menghadapi perubahan iklim global. (a-z-animals)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....