King Crab Penghuni Laut dalam
- 25 Feb 2026 18:33 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - King crab, atau kepiting raja yang termasuk dalam famili Lithodidae, adalah salah satu krustasea terbesar dan paling ikonik di dunia samudra. Meskipun penampilannya sangat menyerupai kepiting sejati, secara taksonomi mereka sebenarnya lebih dekat kekerabatannya dengan kelomang (hermit crab). Spesies yang paling terkenal adalah kepiting raja merah (Paralithodes camtschaticus), yang dapat memiliki bentangan kaki hingga 1,8 meter dan berat mencapai belasan kilogram. Mereka umumnya menghuni perairan dingin yang sangat dalam, seperti di Laut Bering dan Samudra Pasifik Utara.
Salah satu ciri fisik yang paling mencolok dari king crab adalah struktur kakinya yang unik. Berbeda dengan kepiting sejati yang memiliki lima pasang kaki jalan yang terlihat jelas, king crab hanya tampak memiliki empat pasang kaki, termasuk sepasang capit yang besar. Pasangan kaki kelima mereka sebenarnya ada, namun berukuran sangat kecil dan tersembunyi di bawah penutup insang di bagian belakang karapas. Kaki mungil ini berfungsi khusus untuk membersihkan insang mereka dan membantu dalam proses pembuahan selama musim kawin.
Habitat king crab berada di kedalaman laut yang ekstrem, sering kali mencapai ratusan meter di bawah permukaan di mana suhu air mendekati titik beku. Di lingkungan yang keras ini, mereka adalah predator sekaligus pemakan bangkai yang oportunistik. Dengan capitnya yang sangat kuat, king crab mampu menghancurkan cangkang keras dari mangsanya seperti kerang, siput laut, bulu babi, hingga bintang laut. Pertumbuhan mereka sangat bergantung pada proses molting (pergantian kulit), di mana mereka menanggalkan karapas lamanya untuk membentuk yang baru yang lebih besar.
Dari sisi ekonomi, king crab dikenal sebagai komoditas makanan laut paling premium dan mahal karena proses penangkapannya yang sangat berbahaya. Para nelayan harus menghadapi badai besar, suhu yang membeku, dan ombak raksasa di laut lepas untuk memasang perangkap baja berukuran raksasa. Karena risiko nyawa yang tinggi bagi para nelayannya, kegiatan ini sering dijuluki sebagai salah satu pekerjaan paling mematikan di dunia, namun hasilnya sebanding dengan permintaan pasar global yang tinggi akan dagingnya yang manis dan lembut.
Meskipun memiliki nilai ekonomi tinggi, populasi king crab saat ini sangat rentan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Suhu air laut yang meningkat secara drastis di wilayah Arktik telah menyebabkan migrasi besar-besaran dan penurunan populasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Upaya konservasi dan pengaturan kuota tangkapan yang ketat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa spesies raksasa bawah laut ini tidak punah dan ekosistem laut dalam yang mereka huni tetap terjaga keseimbangannya.(a-z-animals.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....