Fenomena Black Oxygen - Oksigen tanpa Bantuan Sinar Matahari
- 23 Feb 2026 22:11 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Fenomena "Black Oxygen" atau oksigen hitam merujuk pada penemuan ilmiah mutakhir yang mengungkap bahwa oksigen di dasar laut dapat dihasilkan tanpa bantuan sinar matahari atau proses fotosintesis. Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience ini berlokasi di Zona Fraktur Clarion-Clipperton, sebuah wilayah di Samudra Pasifik yang sangat dalam dan gelap total. Temuan ini mematahkan teori biologi konvensional yang selama ini meyakini bahwa seluruh pasokan oksigen di bumi berasal dari organisme fotosintetik seperti tanaman, alga, dan fitoplankton.
Oksigen hitam ini dihasilkan melalui proses yang disebut elektrolisis air laut yang dipicu oleh polimetalik nodul, yaitu gumpalan mineral mirip batu bara yang tersebar di dasar laut. Nodul-nodul ini mengandung logam berharga seperti mangan, nikel, dan kobalt yang secara alami menciptakan perbedaan tegangan listrik kecil namun signifikan. Ketika nodul-nodul ini berkelompok, mereka bertindak seperti baterai alami yang memecah molekul air ($H_2O$) menjadi gas hidrogen dan oksigen melalui arus listrik statis di kedalaman sekitar 4.000 meter.
Penemuan ini memiliki implikasi besar terhadap pemahaman kita mengenai asal-usul kehidupan di Bumi dan kemungkinan kehidupan di planet lain. Selama ini, para ilmuwan mengasumsikan bahwa kehidupan yang membutuhkan oksigen baru muncul setelah evolusi fotosintesis dimulai. Namun, dengan adanya bukti bahwa oksigen dapat diproduksi secara geokimia tanpa cahaya, muncul teori baru bahwa kehidupan aerobik (pengguna oksigen) mungkin sudah bisa berkembang di lingkungan laut dalam yang gelap jauh sebelum atmosfer Bumi kaya akan oksigen.
Di sisi lain, fenomena oksigen hitam ini memicu kekhawatiran serius terkait rencana penambangan laut dalam (deep-sea mining) untuk industri teknologi hijau. Perusahaan pertambangan mengincar polimetalik nodul tersebut sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, namun para ilmuwan memperingatkan bahwa mengambil nodul-nodul ini sama saja dengan mencabut "generator oksigen" alami dari ekosistem laut dalam. Jika pasokan oksigen hitam terhenti, seluruh ekosistem unik di dasar samudra yang bergantung pada gas tersebut terancam mengalami kepunahan massal.
Secara keseluruhan, oksigen hitam membuka lembaran baru dalam ilmu pengetahuan tentang betapa kompleksnya mekanisme alam dalam menopang kehidupan. Penemuan ini menuntut kita untuk meninjau kembali kebijakan eksplorasi bawah laut agar tidak merusak sistem pendukung kehidupan yang baru saja kita pahami. Dengan memahami bahwa dasar laut memiliki peran aktif dalam memproduksi oksigen, manusia kini memikul tanggung jawab lebih besar untuk melindungi batas terakhir Bumi yang masih menyimpan banyak misteri ini.(livescience.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....