Tantangan Tidur Anak dan Cara Mengatasinya Tidur Anak

  • 16 Feb 2026 15:34 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Tidur sangat penting untuk tumbuh kembang anak karena saat tidur, tubuh melepaskan hormon pertumbuhan, memperkuat sistem imun, serta memberi kesempatan otak untuk memproses informasi dan pengalaman baru. Tidur yang cukup juga berperan penting dalam konsentrasi, emosi yang stabil, dan kemampuan belajar anak sehari-hari.

Namun, tidur anak bisa jadi tidak selalu nyenyak dan ada berbagai tantangan tidur yang bisa muncul seiring dengan bertambahnya usia. Setiap fase usia memiliki tantangannya tersendiri, mulai dari bayi baru lahir hingga balita. Memahami tantangan tidur anak sesuai usia akan membantu orang tua menentukan langkah yang tepat untuk mendukung pola tidur sehat si Kecil. ( Sumber:Kemenker Ri ).

Tantangan Tidur pada Bayi Baru Lahir (0–3 bulan)

Tidur Tidak Teratur dan Sebentar-Sebentar

Pada bayi baru lahir (0–3 bulan), pola tidur memang cenderung tidak teratur. Hal ini wajar karena siklus tidur mereka masih sangat pendek, biasanya hanya berlangsung 40–60 menit. Berbeda dengan orang dewasa yang lebih banyak berada di tahap tidur dalam, bayi baru lahir justru lebih sering berada di tahap tidur ringan. Di tahap ini, bayi bisa tampak gelisah, menggerakkan tangan dan kaki, mengerutkan wajah, bahkan terlihat seperti mudah terbangun.

Karena siklus tidurnya belum matang, bayi baru lahir sering tidur sebentar-sebentar dengan total waktu tidur bisa mencapai 14–17 jam per hari. Orang tua mungkin cemas karena pola ini terlihat seperti si Kecil tidurnya tidak teratur.

Salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan menerapkan eat–play–sleep routine. Caranya, setelah bayi bangun, lakukan kegiatan menyusu (eat), kemudian berikan stimulasi ringan seperti mengajak ngobrol bayi atau tummy time (play), dan setelah bayi tampak mengantuk, baru tidurkan (sleep). Pola ini membantu bayi secara bertahap mengenali urutan kegiatan sehari-hari, sehingga otaknya mulai mengasosiasikan tanda-tanda tertentu dengan waktu tidur. Dengan konsistensi, rutinitas ini bisa mendukung bayi memiliki pola tidur yang lebih teratur seiring bertambahnya usia.

Siang dan Malam Terbalik

Bayi baru lahir sering kali lebih aktif di malam hari dan lebih banyak tidur di siang hari. Hal ini terjadi karena ritme sirkadian belum terbentuk sempurna.

Ritme sirkadian bekerja dengan cara mengenali cahaya sebagai sinyal utama. Saat mata terpapar cahaya, otak menerima pesan bahwa ini adalah waktu untuk aktif dan terjaga. Sebaliknya, ketika cahaya berkurang, otak mulai memproduksi hormon melatonin yang memberi sinyal pada tubuh untuk tenang dan bersiap tidur.

Pada bayi baru lahir, ritme sirkadian masih berkembang sehingga mereka belum bisa membedakan siang dan malam. Orang tua bisa membantu proses ini dengan:

  • Paparan sinar matahari di siang hari: bawa bayi keluar rumah atau biarkan cahaya alami masuk ke ruangan.

  • Aktivitas lebih banyak di siang hari: ajak bayi berinteraksi, bermain, atau mengajak ngobrol dengan suara yang ceria.

  • Ciptakan suasana malam yang tenang: redupkan lampu, kurangi suara, dan batasi interaksi saat bayi terbangun di malam hari.( Sumber:Kemenker Ri ).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....