Darah Belangkas Sebagai Detektor Alami Racun Berbahaya

  • 20 Jan 2026 18:48 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Kepiting tapal kuda, atau Belangkas yang sering disebut dengan Mimi atau Mintuna di Indonesia, memiliki darah berwarna biru yang sangat berharga bagi dunia medis karena mengandung sel imun unik bernama Amebocyte. Sel ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mendeteksi keberadaan endotoksin, yaitu racun berbahaya yang dihasilkan oleh bakteri tertentu. Hanya dalam hitungan detik setelah bersentuhan dengan bakteri, darah kepiting ini akan menggumpal menjadi semacam gel padat yang berfungsi sebagai sistem pertahanan alami untuk mengisolasi infeksi.

Keunikan inilah yang mendasari pembuatan LAL (Limulus Amebocyte Lysate), sebuah bahan penguji standar global untuk memastikan keamanan produk medis. Setiap vaksin, cairan infus, alat pacu jantung, hingga jarum suntik yang akan masuk ke tubuh manusia harus diuji terlebih dahulu menggunakan ekstrak darah kepiting tapal kuda. Jika ekstrak tersebut menggumpal saat diteteskan pada sampel alat medis, itu tandanya produk tersebut terkontaminasi bakteri dan tidak layak digunakan karena bisa menyebabkan demam hebat hingga kematian pada pasien.

Proses pengambilan darah dilakukan dengan menangkap kepiting dewasa di habitat aslinya, lalu membawanya ke laboratorium khusus untuk disedot darahnya melalui area di sekitar jantung. Biasanya, sekitar 30% dari total volume darah seekor kepiting diambil dalam satu sesi. Karena peran krusialnya dalam menjaga keselamatan nyawa manusia di seluruh dunia, cairan biru ini menjadi salah satu bahan kimia alami termahal di dunia, dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah per liternya.

Setelah proses ekstraksi selesai, kepiting-kepiting tersebut biasanya dilepaskan kembali ke laut dengan harapan mereka bisa pulih dan terus bereproduksi. Namun, para ilmuwan mencatat adanya risiko kematian pasca-pengambilan darah yang berkisar antara 10% hingga 30%, serta adanya kemungkinan gangguan pada perilaku kawin mereka. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai kelestarian populasi hewan purba ini, mengingat mereka sudah ada di bumi jauh sebelum zaman dinosaurus namun kini harus menghadapi tekanan besar akibat kebutuhan industri farmasi.

Saat ini, pengembangan alternatif sintetis yang disebut Recombinant Factor C (rFC) mulai dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada darah asli kepiting tapal kuda. Meski teknologi sintetis ini sudah mulai diakui oleh beberapa otoritas kesehatan internasional, penggunaan darah asli kepiting tapal kuda tetap menjadi metode utama yang paling dipercaya di banyak negara. Keberadaan hewan ini menjadi bukti nyata bagaimana ekosistem laut yang sangat tua memberikan kontribusi yang tidak tergantikan bagi kemajuan sains dan keselamatan manusia modern.(greenqueen.com.hk)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....