Puskesmas Nunukan Temukan Guru Berisiko Kolesterol Tinggi

  • 23 Mei 2026 06:26 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Lebih dari 50 persen guru peserta screening berisiko mengalami kolesterol tinggi.
  • Puskesmas Nunukan juga menemukan sejumlah guru mengalami tekanan darah menuju hipertensi.
  • Guru dengan hasil pemeriksaan berisiko diminta mengubah pola hidup dan menjalani pemeriksaan ulang.

RRI.CO.ID, Nunukan - Puskesmas Nunukan menemukan banyak guru berisiko mengalami kolesterol tinggi saat screening kesehatan. Pemeriksaan dilakukan melalui Program Cek Kesehatan Gratis di salah satu sekolah di Nunukan.

Pemeriksaan kesehatan meliputi tekanan darah, gula darah, dan kolesterol bagi tenaga pendidik. Hasil screening menunjukkan sejumlah guru memiliki faktor risiko penyakit tidak menular. Hal ini disampaikan Kepala Puskesmas Nunukan, dr. Ika Bihandayani.

“mungkin sekitar berapa persen ya, lebih dari 50 persen kayaknya tadi ditemukan yang beresiko hiperkolesterolemia, kadar kolesterolnya tinggi di dalam darahnya, sehingga ini potensi tidak hanya mengancam, apa namanya, mengarah ke penyakit tidak menular gitu ya,” ujarnya.

Selain kolesterol tinggi, petugas kesehatan juga menemukan beberapa guru mengalami tekanan darah menuju hipertensi. Sebagian peserta mengaku baru pertama kali mengetahui kondisi tekanan darahnya meningkat saat pemeriksaan berlangsung.

Puskesmas Nunukan akan melakukan pemeriksaan ulang bagi peserta dengan tekanan darah tinggi dalam dua minggu. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum diberikan penanganan lebih lanjut.

“kemudian ada juga yang tekanan darahnya memang sudah menuju ke hipertensi, bahkan ada juga tadi yang sudah tinggi, namun setelah kita gali, merasa belum pernah tinggi, seperti itu tinggi ya apa, capaian tekanan darahnya sehingga kita perlu mengkonfirmasi kembali lagi dengan 2 minggu untuk pemeriksaan ulang,” katanya.

Guru dengan hasil pemeriksaan berisiko diminta menerapkan pola hidup sehat secara rutin. Puskesmas Nunukan juga menyiapkan terapi lanjutan apabila perubahan gaya hidup belum menunjukkan hasil optimal.

“tapi tentu dengan merubah gaya hidup sudah ya, membatasi gula garam lemaknya, olahraga, hindari asap rokok, kelola stress, kemudian kembali datang untuk mengecek beberapa kali, ketika memang temuannya masih didapatkan sama, berarti memang harus dibantu, tidak hanya mengubah gaya hidup, tetapi juga dibantu dengan terapi obat rutin.” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....