Bukan Hanya Publikasi, Media Harus Ciptakan Dampak bagi Perlindungan Anak
- 23 Jul 2026 18:48 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan - Komunikasi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi, terutama dalam upaya perlindungan anak. Manajer Senior Komunikasi Strategis Save the Children Indonesia, Fandi Yusuf, menegaskan bahwa komunikasi harus menjadi instrumen yang mampu menggerakkan perubahan melalui kolaborasi yang kuat dengan media.
Menurutnya, sebagai organisasi kemanusiaan, Save the Children memandang komunikasi sebagai bagian integral dari setiap program perlindungan anak. Karena itu, media tidak hanya diposisikan sebagai mitra publikasi, tetapi juga sebagai pihak yang dapat memperkuat dampak dari berbagai upaya advokasi.
“Buat kami organisasi kemanusiaan di Save the Children bukan hanya sebagai mitra yang bisa mengabarkan dan menyeberluaskan informasi tentang kegiatan kualitas. Tapi ini sebagai sarana untuk membuat, menyeberluaskan, memperkuat dampak atau kami biasa menyebutnya media for impact,” kata Fandi pada webinar Jejak KREASI dengan tema ‘Wujudkan Ruang Digital yang Aman Melalui Pemberitaan Ramah Anak’ yang digelar Program KREASI Save the Children, Rabu, 22 Juli 2026, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2026.
Ia mengemukakan setidaknya terdapat tiga tujuan utama dari konsep media for impact tersebut. Yakni menyuarakan dan mengadvokasi hak-hak anak, membangun keberpihakan publik terhadap anak, serta menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan mereka.
Ia mengakui bahwa ketika masyarakat mendengar pemberitaan tentang anak, isu yang paling sering muncul adalah kekerasan, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai bentuk pelanggaran hak anak. Kondisi tersebut memang mencerminkan realitas yang terjadi di masyarakat, namun dinilai belum menggambarkan keseluruhan cerita tentang anak.
“Sebetulnya juga ada bagian lain yang mungkin juga masih bisa sangat dieksplorasi untuk diberitakan, untuk dikabarkan. Misalnya anak-anak yang menjadi inisiator perubahan, anak-anak yang berkampanye untuk mengalokasi masalah yang ada di dalamnya sendiri dan kemudian mereka berhasil mendorong perubahan atau anak-anak lain yang sangat berprestasi, yang menjadi kebanggaan di daerahnya,” ungkapnya.
Selain itu, Fandi menekankan agar pemberitaan juga diharapkan mampu membangun keberpihakan publik terhadap anak, terutama bagi mereka yang menjadi penyintas kekerasan. Media menurutnya memiliki peran penting dalam menghilangkan stigma terhadap korban sehingga mereka memperoleh perlindungan dan dukungan, bukan justru menjadi sasaran penilaian negatif.
Lebih lanjut Fandi Yusuf mengemukakan dalam dunia kemanusiaan berlaku prinsip communication is aid atau komunikasi adalah bantuan. Kehadiran media sejak awal dalam berbagai situasi, termasuk saat bencana, dinilai mampu mempercepat penyebaran informasi mengenai kebutuhan masyarakat sehingga mendorong hadirnya dukungan yang lebih luas.
Ia mencontohkan pengalaman pada awal pandemi COVID-19 ketika Save the Children menyebarluaskan informasi mengenai kondisi anak-anak di Indonesia melalui jaringan media internasional. Pemerintah Australia disebut kemudian memberikan hibah sebesar 1,5 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung penanganan COVID-19 di Indonesia.
Contoh lainnya terjadi saat penyelenggaraan G20 di Indonesia, ketika Save the Children memfasilitasi anak-anak dari berbagai negara untuk menyuarakan kepedulian terhadap krisis iklim secara langsung kepada media dan para pemangku kepentingan.
Namun demikian ia mengingatkan bahwa setiap publikasi harus diawali dengan identifikasi risiko karena setiap konten yang dipublikasikan, terutama di ruang digital, akan meninggalkan jejak yang berpotensi berdampak jangka panjang terhadap perlindungan anak. Oleh karena itu, media juga penting untuk memahami risiko dari setiap publikasi yang dilakukan sehingga diperlukan diskusi lebih dalam sebelum menyebarkan informasi tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....