Komunikasi Orang Tua Cegah Anak Terpapar Risiko Dunia Digital
- 23 Jul 2026 12:07 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan - Konsultan Perlindungan Anak Program KREASI Save the Children, Pritta Damanik mengungkapkan sejumlah ciri yang paling sering ditemukan pada anak yang terpapar risiko dunia digital. Oleh karena itu, para orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta aktivitas mereka di ruang digital.
Dalam pemaparannya pada webinar Jejak KREASI dengan tema ‘Wujudkan Ruang Digital yang Aman Melalui Pemberitaan Ramah Anak’ yang digelar Program KREASI Save the Children, Rabu, 22 Juli 2026, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2026 ia mengemukakan tanda yang perlu diwaspadai adalah ditemukannya konten yang tidak pantas atau berisi materi dewasa di gawai anak. Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi karena algoritma platform digital yang terus menampilkan konten serupa berdasarkan riwayat aktivitas pengguna.
Ia menjelaskan bahwa algoritma akan menyesuaikan rekomendasi dengan kebiasaan pengguna dalam mengakses konten. Akibatnya, anak yang tanpa sengaja mengakses konten tertentu berisiko terus menerima rekomendasi yang sama hingga terjebak dalam paparan yang tidak sesuai dengan usianya.
“Lalu yang berikutnya, bisa saja mereka menerima hadiah dari orang yang tidak dikenal. Tahun lalu itu sempat ada trend banyak orang-orang dewasa bermain Roblox dan kemudian mereka ketemuan sama anak-anak yang sebenarnya secara resiko perlindungan anak itu nggak benar ya orang dewasa mengajak anak bertemu dari game online,” ungkapnya.
Selain itu, orang tua juga perlu waspada apabila anak menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal, menjadi lebih pendiam, atau menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia maya. Menurutnya, perubahan-perubahan tersebut dapat menjadi indikator yang perlu segera ditindaklanjuti melalui komunikasi yang baik dengan anak.
Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua didorong menyeimbangkan aktivitas daring dan luring anak. Anak tetap perlu memiliki waktu untuk berolahraga, bertemu teman, serta berinteraksi secara langsung dengan keluarga agar perkembangan sosial dan emosionalnya tetap terjaga.
“Jadi dalam penelitian, ada yang menunjukkan bahwa meskipun anak-anak sadar bahwa mereka mungkin telah memberikan data tentang diri mereka sendiri atau orang lain dalam aktivitas mereka di lingkungan digital namun mereka belum tentu memahami sejauh mana konsekuensinya. Bisa saja anak-anak merasa bahwa, oh ya nggak apa-apa, saya kan cuma pengen kenalan tapi sebenarnya itu dimanfaatkan oleh orang lain,” kata Pritta.
Ia menambahkan bahwa semakin banyak aplikasi dan permainan digital yang mengumpulkan data anak, termasuk melalui permainan edukatif maupun perangkat yang terhubung ke internet sehingga risiko penyalahgunaan data pribadi semakin meningkat. Karena itu, ia menegaskan bahwa langkah paling realistis yang dapat dilakukan orang tua adalah membangun komunikasi yang terbuka dengan anak agar mereka lebih memahami risiko dunia digital dan berani menyampaikan pengalaman yang dialami saat beraktivitas di internet.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....