Tolögu Nias Selatan Menuju Publikasi Secara Nasional dan Internasional
- 30 Mei 2026 13:01 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan – Pameran dokumentasi pembuatan Tolögu yang digelar di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, menjadi penutup rangkaian penelitian lapangan yang dilakukan oleh dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa atau yang akrab disapa Wibi.
Wibi mengatakan, pameran tersebut menampilkan hasil dokumentasi proses pembuatan Tolögu yang selama ini menjadi fokus penelitiannya. Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menjadi akhir dari tahapan penelitian fisik di Nias Selatan sebelum memasuki proses kurasi dan publikasi hasil penelitian.

"Setelah pameran ini, kami akan mengkurasi seluruh hasil dokumentasi yang telah dikumpulkan selama penelitian. Selanjutnya, hasil tersebut akan diserahkan kepada pihak sponsor, yakni Endangered Material Knowledge Program (EMKP) The British Museum, pada Desember 2026," ujar Wibi saat diwawancarai RRI, Sabtu (30/5/2026).
Ia menjelaskan, setelah proses penyerahan dan kajian lanjutan selesai dilakukan, seluruh dokumentasi penelitian dijadwalkan dapat diakses publik secara daring pada Juni 2027. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan sejumlah tahapan agar hasil penelitian dapat tersusun secara baik dan memenuhi standar publikasi internasional.

Wibi mengungkapkan, penelitian mengenai Tolögu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain mendokumentasikan proses pembuatan Tolögu, tim peneliti juga harus menanggung biaya logistik selama berada di Nias Selatan serta transportasi udara pulang-pergi. Secara keseluruhan, anggaran penelitian tersebut memerlukan biaya yang cukup besar dan seluruhnya didukung oleh sponsor penelitian.
"Kami bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari sponsor sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik. Proses dokumentasi budaya seperti ini memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar," katanya.

Lebih lanjut, Wibi berharap Kementerian Kebudayaan dapat memberikan perhatian lebih terhadap berbagai tradisi budaya yang berada di wilayah-wilayah pinggiran atau yang bukan termasuk episentrum budaya nasional. Menurutnya, perhatian tersebut penting untuk memperkuat upaya pelestarian sekaligus mempercepat proses pengakuan budaya ke tingkat yang lebih luas.
"Semakin banyak penelitian dan kegiatan budaya yang dilakukan, maka akan semakin besar dampak positifnya bagi pelestarian budaya di desa-desa yang ada di Nias Selatan. Dokumentasi yang berkelanjutan juga akan memudahkan proses penetapan warisan budaya hingga ke tingkat dunia," ucapnya.

Melalui penelitian dan pameran dokumentasi tersebut, diharapkan keberadaan Tolögu sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Nias Selatan semakin dikenal luas serta mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga dan melestarikannya bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....