Hoho dan Jejak Ingatan Nias Selatan: Tradisi Lisan yang Terus Bergema

  • 06 Sep 2026 10:18 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Di Nias Selatan, Hoho merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang tidak sekadar berfungsi sebagai nyanyian, tetapi juga menjadi media untuk menyimpan dan menyampaikan sejarah, adat, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Hoho umumnya dilantunkan secara berkelompok oleh kaum laki-laki dengan pola bersahut-sahutan menggunakan bahasa Nias.

Budayawan Nias Selatan, Ariston Manao, menjelaskan bahwa Hoho lebih berfungsi untuk menceritakan sejarah, mulai dari proses pendirian sebuah rumah, pengangkatan seorang penghulu adat, hingga menguraikan jasa-jasa seseorang yang telah meninggal semasa hidupnya.

Karena itu, Hoho bukan sekadar pertunjukan vokal, melainkan cara masyarakat Nias Selatan menyusun dan menyampaikan kembali perjalanan kehidupan sosialnya melalui bahasa sastra.

"Hoho sebetulnya itu menceritakan tentang sejarah budaya bagaimana memulai pendirian sebuah rumah dari dasar sampai selesai atau mengangkat seorang penghulu adat. Terus ada orang meninggal, apa jasa-jasanya selama hidupnya jadi diurai sedemikian rupa di dalam Hoho," ungkapnya saat ditemui di desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, awal Agustus 2026 lalu.

Ariston Manao juga menjelaskan bahwa corak lantunan Hoho memiliki kekhasan antardaerah yang disebutnya berkaitan dengan göjö-göjö atau laring. Hal ini menurutnya dipengaruhi sumber air yang diminum masyarakat setempat.

Atraksi Hoho pada penutupan Bawomataluo Expo IV awal Agustus 2026 lalu. (Foto: RRI/Anoverlis)

Dengan demikian, intonasi Hoho antara satu wilayah dengan lainnya akan berbeda seperti misalnya antara Bawomataluo dengan Hoho dari Hilisimaetano.

"Hoho sebetulnya ditentukan oleh namanya göjö-göjö. Jadi itu sebetulnya dipengaruhi juga sumber air minum sehingga intonasi baik Bawomataluo mungkin dengan Hilisimetano ada perbedaannya," kata Ariston.

Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda untuk menunjukkan bahwa warisan tersebut perlu diteruskan oleh generasi baru agar budaya Nias Selatan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas dan jati diri masyarakatnya.

Hal ini juga diperkuat oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang telah menetapkan Hoho sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021 lalu dalam lingkup tradisi dan ekspresi lisan.

Kekayaan Hoho juga terlihat dari beragam bentuk dan konteks penyajiannya, antara lain Hoho Faluaya yang berkaitan dengan suasana perang, Hoho Fetataro dalam pesta kampung atau kematian bangsawan, Hoho Famadaya Hasi ketika mengusung jenazah bangsawan, Hoho Famadaya Daro-daro dalam pengukuhan bangsawan, serta Hoho Famadaya Harimao dalam sidang tokoh adat untuk menetapkan hukum atau aturan adat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....