Fo'ere, Ritual Leluhur Nias Selatan yang Kini Menjadi Warisan Budaya

  • 07 Agt 2026 20:32 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Di balik megahnya rumah adat dan batu-batu megalitik Nias Selatan, tersimpan sebuah tradisi lisan yang sarat makna bernama Fo'ere. Ritual ini dahulu dipercaya sebagai media untuk menolak bala, menyembuhkan orang sakit, sekaligus menjadi bagian dari praktik penghormatan kepada arwah leluhur pada masa animisme.

Menurut Budayawan Nias Selatan Ariston Manao, perubahan keyakinan masyarakat membawa perubahan makna terhadap Fo'ere. Jika dahulu ritual ini berkaitan dengan kepercayaan spiritual, kini Fo'ere dipertahankan sebagai warisan budaya yang memperkenalkan identitas, jati diri, dan kekayaan tradisi Nias Selatan kepada dunia.

“Fo’ere ini sebetulnya dipimpin oleh seorang Imam atau Ere dan tidak semua desa punya hanya ada di Onohondro maupun desa Bawogosali. Jadi apapun semacam orang sakit atau ada ritual-ritual untuk penyembahan arwah leluhur itu harus didatangkan dari dua desa ini,” kata Ariston.

Jejak keberadaan Ere masih dapat dikenali melalui sejumlah peninggalan di desa-desa adat. Salah satunya adalah batu bulat di balai desa yang bukan diperuntukkan bagi Kepala Adat, melainkan sebagai tempat duduk para imam ketika memimpin rangkaian ritual.

Pertunjukan Fo'ere oleh para pemuda dari Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan pada penutupan Bawomataluo Expo, Minggu, 2 Agustus 2026, dalam upaya melestarikan tradisi tersebut sebagai atraksi budaya. (Foto: RRI/Anoverlis)

Prosesi Fo'ere juga berlangsung di beberapa titik lorong desa, tempat Ere melantunkan syair menggunakan bahasa lama yang bernilai sastra tinggi. Keunikan lainnya, pelantun Fo'ere merupakan perempuan, sehingga tradisi ini menjadi ruang penting bagi perempuan dalam menjaga kesinambungan budaya lisan masyarakat Nias Selatan.

Fo'ere memiliki karakter yang berbeda dengan Hoho, tradisi lisan lain yang juga hidup di Nias Selatan. Jika Fo'ere berfokus pada ritual penyembuhan dan penolak bala, Hoho merupakan lantunan yang mengisahkan sejarah, proses pembangunan rumah adat, pengangkatan pemimpin adat, hingga mengenang jasa seseorang setelah meninggal dunia.

“Hoho sebetulnya ditentukan oleh namanya göjö- göjö (laring) yang dipengaruhi juga sumber air minum. Sehingga intonasi baik Bawomataluo mungkin beda dengan Hillisimaetano ada perbedaannya,” ungkapnya.

Kini, Fo'ere tidak lagi dipandang sebagai ritual kepercayaan, melainkan sebagai warisan budaya yang merekam perjalanan sejarah masyarakat Nias Selatan. Melestarikannya berarti menjaga ingatan kolektif tentang nilai, sastra lisan, dan identitas budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....