Puluhan Ribu Pekerja Kena PHK, Terbanyak di Jateng

  • 03 Sep 2024 01:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengungkap puluhan ribu pekerja di Indonesia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Lebih tepatnya, sebanyak 46.240 pekerja terkena PHK selama periode Januari-Agustus 2024.

PHK paling banyak terjadi di Jawa Tengah. Posisi kedua diikuti DKI Jakarta yang didominasi oleh sektor jasa.

Setelah Jawa Tengah dan DKI Jakarta, provinsi ketiga yang paling banyak terjadi PHK adalah Banten. Adapun sektor yang paling banyak melakukan PHK pada pekerjanya diantaranya Industri tekstil dan pabrik garmen.

"PHK per Agustus itu 46 ribu, terbanyak (pekerja) manufaktur, tekstil, industri. Selanjutnya, pengolahan, garmen, alas kaki," kata Menaker Ida Fauziyah di Jakarta, Senin (2/9/2024).

"Ya, kita akhir-akhir ini banyak mengalami PHK. Memang naik. Namun, mudah-mudahan angkanya tidak lebih tinggi dari angka tahun 2023," ujarnya.

Menaker menyebut pihaknya terus melakukan berbagai upaya mitigasi atas maraknya PHK massal dari sejumlah industri di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa upaya mediasi juga dapat cukup menekan total angka PHK yang saat ini terus meningkat.

"Memang kita akhir-akhir ini banyak mengalami PHK. Kita terus memitigasi agar jangan sampai PHK itu terus terjadi," ucapnya.

"Upaya-upaya itu ternyata Alhamdulillah karena kita pertemukan antara manajemen dengan pekerja kita pertemukan. Itu bisa menekan terjadinya PHK," kata Ida menambahkan.

Upaya lain untuk menekan PHK adalah membuka lowongan pekerjaan lewat bursa kerja nasional. Ia menyebut ada 178 ribu lowongan pekerjaan yang dibuka dalam bursa kerja yang diselenggarakan Kemnaker beberapa waktu lalu.

"Ya, memang (PHK) naik, tapi mudah-mudahan angkanya tidak lebih tinggi dari 2023. Makanya kita terus lakukan mitigasi itu," ucapnya.

"Di samping itu tentu lapangan kerja baru kita create, kemarin kita laksanakan job fair nasional. Itu cukup tinggi lowongan yang tersedia, 178 ribu lowongan pekerjaan yang tersedia, pada waktu itu memang yang melamar 93 ribu," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....