Memasuki Kemarau, BMKG Imbau Tetap Waspada Bencana Hidrometeorologi

  • 06 Jul 2024 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Meski sudah memasuki musim kemarau, tapi sebagian wilayah di Indonesia masih diguyur hujan di awal Juli ini. Kondisi ini disebabkan karena fenomena atmosfer yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan.

"Hujan akhir-akhir ini disebabkan karena fenomena atmosfer. Di antaranya fenomena Madden Julian Oscilation (MJO), gelombang rossby ekuatorial dan gelombang kelvin," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Sabtu (6/7/2024).

Pengaruh fenomena atmosfer ini, menurut Guswanto, bisa dirasakan dalam hitungan hari. "Untuk dampaknya bisa dirasakan beberapa hari saja," katanya.

Fenomena MJO, disebut Guswanto, dapat dirasakan dampaknya hinggal tanggal 11 sampai 12 Juli mendatang. Sehingga masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi hujan dalam sepekan ke depan.

Fenomena ini berbeda dengan La Nina yang juga dapat menyebabkan turunnya hujan di saat musim kemarau. Menurut Guswanto, La Nina adalah fenomena yang menyebabkan suhu muka laut mengalami penurunan, sehingga udara terasa lebih dingin dari biasanya.

"Saat ini kami monitor La Nina di Indonesia masih berada di minus 3,7 artinya masih normal. Sekitar bulan Agustus dan September mendatang kami prediksi Indonesia sudah memasuki La Nina lemah," ujar Guswanto.

Fenomena La Nina ini diprediksi akan membuat Indonesia mengalami kemarau basah. Karena hal itu dapat menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya.

"Artinya musim kemaraunya tidak terlalu kering. Sehingga masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor," kata Guswanto, memberi pesan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....