AHY Soroti Ketimpangan Air dan Pencemaran Sungai di Indonesia
- 12 Agt 2026 09:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indo Water 2026 Expo and Forum resmi dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta
- Indo Water memasuki penyelenggaraan ke-20 dan telah berlangsung selama 25 tahun
- Pameran tahun ini diikuti lebih dari 700 peserta dari 23 negara
- Area pameran mencapai sekitar 20 ribu meter persegi dan menjadi capaian tertinggi Indo Water
- Pemerintah menempatkan ketahanan air sebagai prioritas bersama ketahanan pangan dan energi
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti ketimpangan ketersediaan air di Indonesia. Menurut AHY, persoalan tersebut menjadi tantangan dalam menjaga ketahanan air nasional.
Pulau Jawa menampung lebih dari separuh penduduk Indonesia, tetapi hanya memiliki sekitar 4,5 persen potensi air permukaan. “Ketahanan air menjadi salah satu prioritas pemerintah bersama ketahanan pangan dan energi,” kata AHY di Jakarta, Selasa 11 Agustus 2026.
Ia mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan air bersih untuk masyarakat dan sektor pertanian. Ancaman kekeringan juga perlu diantisipasi ketika musim kemarau beriringan dengan fenomena El Nino.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air bersih dan produktivitas pertanian. Selain ketersediaan, AHY menyoroti kualitas air yang masih menjadi persoalan.
Ia menyebut sekitar 70 persen sungai di Indonesia telah tercemar. Pemerintah menargetkan akses rumah tangga terhadap air minum perpipaan mencapai 51,36 persen pada 2029.
Target tersebut diharapkan meningkat hingga 100 persen pada 2045. Untuk mencapai target itu, pemerintah mendorong pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional.
Perluasan sambungan rumah juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan akses air minum masyarakat. Pemerintah turut memperkuat kelembagaan, regulasi, pembiayaan, serta penerapan sanitasi aman.
AHY juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk mengatasi ketimpangan ketersediaan air. Teknologi tersebut mencakup desalinasi air laut, pengolahan air payau, dan pemanfaatan air tanah dalam.
Teknologi air tawar bawah laut juga dinilai berpotensi mendukung ketahanan air nasional. Menurut AHY, pengembangan teknologi membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, industri, dan penyedia teknologi.
“Kalau pun masih ada yang belum bisa diimplementasikan langsung, kita bisa memulai dengan melakukan penelitian bersama,” ujarnya. Kerja sama tersebut dapat dilanjutkan melalui produksi bersama untuk memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.
“Kita bisa mencari solusi dengan sejumlah teknologi yang sudah available, yang sudah tersedia. Kita bisa melakukan joint research, joint production,” kata AHY.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat menghadiri pembukaan Indo Water 2026 Expo and Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran sektor air dan air limbah tersebut berlangsung pada 11 hingga 13 Agustus 2026.
Managing Director PT Napindo Media Ashatama, Arya Seta, mengatakan Indo Water memasuki penyelenggaraan ke-20 tahun ini. Lebih dari 700 peserta dari 23 negara mengikuti pameran tersebut di area seluas sekitar 20 ribu meter persegi.
"Lebih dari 700 peserta pameran dari 23 negara yang menempati area seluas 20 ribu meter persegi. Capaian ini adalah capaian tertinggi selama Indo Water terselenggara," katanya.
Menurut Arya, Indo Water tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan teknologi. Kegiatan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dan investasi di sektor air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....