Radio Kambing, Kisah Heroik Pejuang Penyiaran

  • 06 Sep 2023 21:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Tinta sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat sebuah aksi heroik kala Agresi militer Belanda II pada 1948. Militer Kerajaan Belanda mengggempur habis pemancar RRI di PTP Goni, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.

Kepala RRI Surakarta kala itu, R. Maladi, langsung memerintahkan pegawai untuk memindahkan sekaligus menyelamatkan pemancar RRI Surakarta. Artinya, pemancar milik Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang saat itu digunakan harus segera diungsikan.

Lebih kurang 10 pejuang penyiaran membawa pergi pemancar itu dari Gedung Societeit Sasana Soeka (kini Monumen Pers Nasional) dengan mobil merek deSoto. Setelah persiapan dan strategi dirasa matang, tepat 20 Desember 1948, rombongan bergerak senyap menuju Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.

Namun nahas, pergerakan tercium pasukan Belanda, hingga pada 21 Desember 1948, mobil diserang tentara Belanda di tengah perjalanan. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui apa isi sebenarnya mobil itu.

Tanpa disadari para tentara Belanda, pemancar dan alat radio berhasil diselamatkan tepat sebelum kendaraan hancur. Tanpa kendaraan, mereka memanggul semua peralatan itu menggunakan kayu dan bambu.

Mengetahui serangan tersebut, dan melihat isi kendaraan selamat, warga sekitar berduyun-duyun ikut memanggul seluruh peralatan pemancar yang super berat. Tidak tanggung-tanggung, hampir 200 warga secara bergantian membawa pemancar tersebut.

Setelah menempuh dua pekan perjalanan, pada 25 Desember, rombongan tiba di Desa Ngringin, kemudian berlanjut lagi hingga masuk Desa Balong pada 7 Januari 1949. Karena tidak ingin ketahuan Belanda, akhirnya diputuskan menyembunyikan seluruh peralatan di sebuah kandang kambing.


Suara Perjuangan Radio Kambing

Sekitar satu tahun, sampai 1950, siaran RRI mengudara lewat 'Pemancar Kambing.' Di kandang itu juga terdapat alat-alat radio lain yang digunakan untuk siaran.

Karena berada di kandang kambing, ketika mengudara, suara kambing mengembik selalu terdengar di sela-sela siaran. Sebagai pendukung siaran agar lebih baik, antena pemancar sampai harus diikatkan di atas pohon kelapa.

Penyiar ada yang menetap di Desa Balong bersama keluarganya, ada pula yang pulang pergi. Namun untuk meminimalisir resiko, banyak dari penyiar memilih untuk menetap di Desa Balong. Usai siaran, pemancar ditutup dengan terpal agak tak terlihat.

Dari sini, banyak warga setempat menyebut pemancar ini Radio RRI Kambing. Tapi ada pula yang menyematkan nama Radio Kyai Balong.

Selain bahasa Indonesia, siaran Radio Kambing kala itu juga menggunakan bahasa Inggris. Tujuannya adalah, supaya negara lain yang mendengar menjadi paham.

"Sehinga tahu bahwa Indonesia masih ada walaupun digempur habis-habisan oleh Belanda lewat agresi militer. Karena itulah, hampir setiap hari, materi siaran terus diisi tentang pertempuran.

RRI berhasil siaran dengan aman. Sementara itu, tentara Belanda kewalahan mencari asal pemancar.

Benar kata pepatah, bahwa usaha itu tidak pernah mengkhianati hasil. Karena pemancar RRI Kambing, atau disebut Radio Kambing, alias Kyai Balong, tetap ada sampai sekarang.

Pemancar Radio Kambing diperkirakan dibawa kembali ke Societeit Sasana Soeka, Surakarta, pada akhir tahun 1950-an. Dan untuk mengenang jejak perjuangan para pejuang penyiaran, pemancar itu kini abadi menghiasi lantai satu Monumen Pers Nasional, lengkap dengan pagar yang menyerupai kandang kambing.


Tri Prasetya

Sampai hari ini, ruang lobi Gedung RRI Jakarta menyimpan sebuah loh marmer berukir tiga landasan kerja para pegawainya.


Tri Prasetya Radio Republik Indonesia

- Kita harus menyelamatkan segala alat siaran radio dari siapapun yang hendak menggunakan alat tersebut untuk menghancurkan negara kita, dan membela alat itu dengan segala jiwa raga, dalam keadaan bagaimanapun dan dengan akibat apapun juga.

- Kita harus mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan dan alat revolusi seluruh bangsa Indonesia dengan jiwa kebangsaan yang murni, hati yang bersih dan jujur, serta budi yang penuh kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air dan bangsa

- Kita harus berdiri dia atas segala aliran dan keyakinan partai atau golongan dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara, serta berpegang pada jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.


Tiga landasan tersebut bukan sekedar semboyan yang terus dikumandangkan setahun sekali setiap 11 September. Tapi semboyan dari para pegawai RRI ini adalah kenyataan sejarah.

Radio Kambing adalah bukti sejarah perjalanan perjuangan yang mengesankan.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....