Na Willa, RRI, dan Kenangan Radio Era 1960-an

  • 09 Sep 2026 17:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Na Willa menampilkan eksistensi RRI sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia pada era 1960-an.
  • Kisah Na Willa menggambarkan kedekatan masyarakat dengan radio, termasuk rasa penasarannya terhadap suara penyanyi Lilis Suryani.
  • Film Na Willa turut menjadi sarana edukasi tentang sejarah RRI, terutama bagi generasi muda yang belum mengenal perannya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sineas Ryan Adriandhy berhasil memperlihatkan eksistensi Radio Republik Indonesia (RRI) melalui film Na Willa. Stasiun radio yang kini berusia 81 tahun itu turut menjadi bagian dari kisah masa kecil Na Willa yang indah.

Film Na Willa memiliki latar cerita tahun 1960-an, yang pada saat itu eksistensi radio sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Berbagai macam informasi dan hiburan bisa didapatkan melalui benda kotak kecil tersebut.

Na Willa merupakan anak kecil yang periang dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia kerap membuat sang ibunda geleng-geleng kepala saat mencoba berbagai hal baru di sekitarnya.

Pada suatu ketika, Na Willa sedang mendengarkan lagu di sebuah radio tua di rumahnya, Erres, katanya. Sebuah ungkapan yang merujuk kepada RRI, yang pada saat itu dirinya tidak bisa menyebut RRI karena keterbatasan pelafalan.

Selayaknya anak kecil pada umumnya, Na Willa sangat penasaran dengan suara penyanyi Lilis Suryani di dalam radio. Ia berpikir, bahwa penyanyi tersebut nyata dan hadir di dalam radio.

Hingga kemudian, Na Willa berusaha membongkar radio tua milik ibunya tanpa memikirkan keselamatan dirinya. Alih-alih berhasil membongkar, sang ibu langsung menarik Na Willa agar tidak tersengat listrik.

Penggalan halaman buku Na Willa oleh Reda Gaudiamo. (Foto: X/@andriandhy)

Mak (sang ibu), yang diperankan oleh Irma Rihi langsung memarahi dan menasehati Na Willa. Pada momentum tersebut, ia langsung mengajarkan anaknya tentang dari mana asal muasal suara di dalam radio tercipta.

Ia kemudian menjelaskan bahwa suara merdu tersebut bukanlah orang yang bersembunyi di dalam kotak radio. Melainkan hasil siaran dari stasiun RRI yang ditangkap oleh perangkat radio.

Dalam adegan tersebut, Ryan Adriandhy berhasil memberikan edukasi kepada penonton tentang kehadiran RRI pada masa itu. Pada tahun tersebut, RRI seringkali memutar berbagai macam informasi hingga hiburan musik seperti lagu Lilis Suryani.

Dalam wawancara terpisah, penulis Reda Gaudiamo, sosok asli Na Willa, mengatakan dirinya tumbuh saat Lilis Suryani berjaya. Ia mengaku ibunya sangat suka mendengarkan radio, terutama ketika menemani aktivitas keluarga sehari-hari di rumah.

"Ibu saya sangat suka mendengarkan radio, kalau dengar lagu baru pasti di dengarkan baik-baik dan di catat liriknya. Setelah itu, ibu pasti pergi ke Siola, toko piringan hitam, dan akan membeli vinyl disana," katanya dalam postingan TikTok Visinema, Sabtu, 4 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa koleksi piringan hitam yang dimiliki sang ibu cukup banyak. Diantaranya, Ernie Djohan, Alfian, Lilis Suryani, Titiek Puspa, dan Onny Suryono.

"Pokoknya ibu kalau dia suka sama lagunya pasti pergi ke toko piringan hitam. Dan disana pasti dia akan mendapatkan vinylnya," ujarnya.

Sementara itu, Penyiar RRI Jember, Gea Debora mengatakan dirinya cukup terharu melihat dialog Na Willa yang menampilkan RRI. Menurutnya hal tersebut merupakan bagian edukasi karena tidak semua generasi muda mengenal RRI.

"Terima kasih Na Willa, ini menarik sekali. Sangat mengedukasi filmnya," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....