Mengapa HUT Yogyakarta Diperingati Setiap 7 Oktober? Ketahui Sejarah Dibaliknya

  • 07 Okt 2026 11:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kota Yogyakarta memperingati hari jadinya yang ke-270 pada 7 Oktober 2026.
  • Perjanjian Giyanti menjadi awal perjalanan terbentuknya Kasultanan Ngayogyakarta.
  • Boyongan Sultan Hamengku Buwono I menjadi dasar penetapan hari jadi Yogyakarta.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kota Yogyakarta memperingati hari jadinya yang ke-270 pada Rabu, 7 Oktober 2026. Penetapan hari jadi tersebut berakar dari boyongan Sultan Hamengku Buwono I menuju keraton baru.

Sejarah panjang Yogyakarta tidak terlepas dari pembagian Kerajaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti. Peristiwa tersebut kemudian menjadi awal terbentuknya Kasultanan Ngayogyakarta.

Melansir laman resmi HUT Kota Yogyakarta, berikut sejarah berdirinya Kota Yogyakarta hingga penetapan hari jadinya.

Berawal dari Perjanjian Giyanti

Perjanjian Giyanti ditandatangani pada 13 Februari 1755 dan membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah. Wilayah tersebut meliputi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.

Pangeran Mangkubumi kemudian diakui sebagai raja Ngayogyakarta. Ia bergelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Sultan Hamengku Buwono I selanjutnya menetapkan wilayah kekuasaannya dengan nama Ngayogyakarta Hadiningrat. Ngayogyakarta kemudian dipilih sebagai ibu kota wilayah tersebut.

Ketetapan tersebut diumumkan pada 13 Maret 1755 dan dikenal sebagai Hadeging Nagari Ngayogyakarta. Setelah itu, Sultan mulai mempersiapkan pembangunan pusat pemerintahan baru.

Pembangunan Keraton Yogyakarta

Hutan Pabringan dipilih sebagai lokasi pusat pemerintahan sekaligus keraton. Kawasan tersebut berada di antara Sungai Winongo dan Sungai Code.

Lokasi itu dipandang strategis dari sisi pertahanan dan keamanan. Pembukaan Hutan Pabringan untuk pembangunan keraton kemudian dimulai pada 9 Oktober 1755.

Selama pembangunan, Sultan Hamengku Buwono I tinggal sementara di Pesanggrahan Ambar Ketawang, Gamping. Dari tempat tersebut, Sultan mengawasi pembangunan keraton baru.

Pembangunan keraton berlangsung selama hampir satu tahun. Setelah selesai, Sultan bersama keluarga dan pengikutnya meninggalkan Ambarketawang menuju keraton baru.

Peristiwa Boyongan Jadi Dasar Hari Jadi Yogyakarta

Peristiwa boyongan berlangsung tepat pada 7 Oktober 1756. Dalam kalender Jawa, momentum tersebut bertepatan dengan Kemis Pahing, 13 Sura 1682.

Peristiwa bersejarah tersebut ditandai melalui sengkalan Dwi Naga Rasa Tunggal. Penanda lainnya adalah Dwi Naga Rasa Wani yang menunjukkan tahun sama.

Kedua sengkalan tersebut sama-sama menunjukkan angka tahun 1682. Maknanya juga membawa semangat persatuan dan keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sultan dikisahkan memasuki keraton melalui sisi selatan atau Kori Kemagangan. Jejak peristiwa tersebut kemudian diwujudkan melalui sejumlah ornamen di kawasan gerbang.

Sepasang naga bertaut ekor menggambarkan sengkalan Dwi Naga Rasa Tunggal. Sementara, sepasang naga bersisik merah menggambarkan Dwi Naga Rasa Wani.

Peristiwa boyongan kemudian menjadi titik awal kehidupan dan perkembangan Yogyakarta. Momentum tersebut akhirnya dipilih Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai dasar hari jadi kota.

Karena itu, hari jadi Kota Yogyakarta diperingati setiap 7 Oktober. Tahun 2026 menandai perjalanan 270 tahun sejak peristiwa boyongan pada 1756.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....