Kementerian PU Perkuat Jembatan Krueng Tingkeum Hadapi Risiko Gerusan Sungai
- 07 Okt 2026 10:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pekerjaan Umum melakukan penguatan Jembatan Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen, Aceh dengan membangun proteksi tebing sungai.
- Proteksi tebing sungai bertujuan untuk mengurangi risiko gerusan yang disebabkan oleh perubahan aliran air dan menjaga stabilitas struktur jembatan.
- Penanganan ini sekaligus memperkuat perlindungan kawasan sekitar jembatan dari potensi bahaya gerusan aliran sungai yang dapat mengancam infrastruktur.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat Jembatan Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen, Aceh. Penguatan dilakukan melalui pembangunan proteksi tebing sungai untuk mengurangi risiko gerusan akibat perubahan aliran.
Proteksi tersebut ditujukan menjaga kestabilan tebing dan keandalan jembatan menghadapi kondisi sungai. Penanganan itu sekaligus juga memperkuat perlindungan kawasan sekitar jembatan dari potensi gerusan aliran sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, penanganan infrastruktur pascabencana menerapkan prinsip Build Back Better. Menurutnya, prinsip ini dilakukan dengan membangun kembali infrastruktur menggunakan standar yang lebih kuat dan tangguh.
Dody berharap, infrastruktur akan lebih siap menghadapi risiko bencana pada masa mendatang. “Kita tidak hanya memperbaiki, tapi membangun kembali dengan standar yang lebih kuat agar ke depan lebih tahan terhadap bencana,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.
Adapun proteksi tebing sungai dibangun sepanjang 273 meter pada sisi Banda Aceh dan 463 meter sisi Medan. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari penanganan permanen Jembatan Krueng Tingkeum pascabencana.
Di sisi lain, Duplikasi Jembatan Krueng Tingkeum juga telah beroperasi penuh sejak 20 September 2026 lalu. Jembatan tersebut kembali mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan logistik antardaerah.
Plt. Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh Zulkarnaini mengatakan duplikasi jembatan beserta proteksi sungai merupakan penanganan permanen pascabencana. Menurutnya, penanganan tersebut dilakukan pada ruas jalan nasional di wilayah Bireuen dan Aceh Utara.
“Secara umum, progress penanganan darurat dan permanen berjalan sesuai rencana, termasuk pekerjaan proteksi sungai,” ucapnya. Zulkarnaini menyebut, terdapat penyesuaian penanganan sisi Medan karena kendala sosial terkait pemanfaatan lahan.
BPJN Aceh juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bireuen dan perwakilan masyarakat terdampak. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperoleh kesepakatan mengenai pemanfaatan lahan pada sisi Medan.
Sebagai informasi, duplikasi Jembatan Krueng Tingkeum memiliki panjang 149 meter dan lebar mencapai 11 meter. Struktur atas menggunakan Steel I Girder sepanjang 30 meter serta Steel Box Girder dengan bentang 57,2 dan 50 meter.
Pembangunan juga mencakup oprit sisi Banda Aceh sepanjang 150 meter dan sisi Medan sepanjang 400 meter. Seluruh penanganan tersebut diarahkan untuk menjaga fungsi jembatan sebagai bagian Koridor Lintas Timur Aceh–Sumatra Utara.
Dengan beroperasinya jembatan dan diperkuatnya proteksi tebing sungai, konektivitas pascabencana kembali didukung infrastruktur lebih tangguh. Kementerian PU juga terus menyelesaikan pekerjaan pendukung dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....