Antisipasi Gejolak Harga, Pemda NTT dan Malang Perketat Pemantauan Harga Pangan

  • 06 Okt 2026 21:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah daerah Kota Malang dan Provinsi NTT melakukan pemantauan ketat terhadap harga dan pasokan pangan untuk mengantisipasi gejolak harga sejak dini.
  • Pemantauan dilakukan secara rutin di pasar tradisional, distributor, dan ritel modern untuk memastikan stabilitas harga pangan bagi masyarakat.
  • Langkah preventif ini merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan melindungi daya beli konsumen di dua wilayah strategis.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah daerah di Kota Malang (Jawa Timur) dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperketat pemantauan harga dan pasokan pangan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi gejolak harga sejak dini melalui pantauan rutin di pasar, distributor, dan ritel modern.

Di Kota Malang, pemantauan dilakukan secara berkala di pasar tradisional, distributor, perdagangan modern, hingga tingkat produsen dan konsumen. Tujuannya untuk mendeteksi perubahan harga sedini mungkin.

"Untuk beberapa bulan terakhir ini kami sering mengadakan pemantauan di pasar dan distributor. Lalu, di pasar modern seperti supermarket dan sebagainya," ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, Elfiatur Roikhah, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Elfiatur menyebut ketersediaan pangan di Malang secara umum masih mencukupi. Namun, beras dan daging sapi masuk kategori waspada. Pasokan beras menurun karena sejumlah daerah penyangga mengalami gagal panen, sementara Malang sedang berada di luar masa panen.

Penurunan populasi sapi dalam beberapa tahun terakhir juga memengaruhi ketersediaan daging sapi di kota itu. Pemerintah daerah kemudian mengandalkan pasokan dari wilayah lain dan terus memantau pergerakan stok secara berkala.

Ia mengingatkan potensi kenaikan harga cabai pada bulan Oktober karena sejumlah daerah pemasok mulai memasuki musim penghujan. Wilayah pemasok seperti Situbondo, Lumajang, Blitar, dan Kediri mulai mengalami penurunan hasil panen akibat perubahan cuaca.

"Untuk bulan Oktober yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga cabai rawit, karena sudah mulai masuk musim penghujan. Di daerah pemasok seperti Situbondo, Lumajang, Blitar, dan Kediri sudah mulai hujan, sehingga hasil panen cabe mulai menurun," katanya.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DISTANKP) Provinsi NTT menyebut kondisi pangan masih aman. Hasil pemantauan stok menunjukkan sebagian besar komoditas memiliki ketahanan persediaan hingga dua sampai tiga bulan.

"Setelah melakukan pemantauan stok dan harga, ketahanan pangannya aman. Hampir semua komoditas dapat bertahan dua sampai tiga bulan, bahkan untuk beras bisa sampai Januari nanti," kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DISTANKP NTT, Christiany Ivonny Beda, dalam kesempatan yang sama.

Ivonny mengatakan pemerintah NTT menjalankan pemantauan harga dan stok pangan setiap hari melalui petugas enumerator. Petugas tersebut memantau pasar serta berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk mengawasi pergerakan harga.

Pemda NTT masih mewaspadai beras dan bawang putih meski kondisi pangan secara umum tetap terkendali. Harga beras premium meningkat di Kabupaten Manggarai Barat, begitu juga dengan bawang putih akibat ketergantungan terhadap impor.

"Di Manggarai Barat terdapat kenaikan harga untuk beras premium. Untuk bawang putih, di beberapa wilayah mengalami kenaikan harga karena masih impor, tetapi sejak Senin sudah turun kembali," ucapnya.

Ivonny menilai distribusi menjadi perhatian penting karena kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak pulau. Pemerintah daerah memperkuat koordinasi bersama pemerintah kabupaten, BULOG, distributor, dan pelaku usaha untuk menjaga kelancaran pasokan. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....