Ketahanan Pangan Menguat, Hashim Bantah Narasi Indonesia Gelap
- 06 Okt 2026 13:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo membantah seruan Indonesia Gelap.
- Menurut Hashim, Indonesia berhasil swasembada beras lebih cepat dari target yang ditentukan Presiden Prabowo Subianto.
RRI.CO.ID, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo membantah seruan Indonesia Gelap. Menurut Hashim, gambaran kondisi terkini mencerminkan kondisi Indonesia yang baik alias terang benderang.
Hashim mengatakan, Indonesia berhasil swasembada beras lebih cepat dari target yang ditentukan Presiden Prabowo Subianto. Kini, lanjut Hashim, cadangan beras pemerintah mencapai 5,3 juta ton.
Bahkan, kapasitas gudang milik pemerintah sudah tidak dapat menampung cadangan beras dan harus menyewa pihak swasta. Hashim mengatakan, ini menjadi kali pertama terjadi di Indonesia selama 42 tahun terakhir.
"Ini kali pertama Indonesia kembali berswasembada beras dalam kurun 42 tahun terakhir, ini capaian besar kita. Karenanya, ketika ada yang bilang Indonesia Gelap, salah, Indonesia Terang, kita berhasil capai target tiga tahun lebih cepat," ucap Hashim saat menjadi pembicara inti di Indonesia International Sustainability Forum 2026, Selasa, 6 Oktober 2026.
Hashim mengatakan, pemerintah menargetkan swasembada kedelai kurun waktu tiga tahun ke depan. Ini menjadi langkah pemerintah menjaga stabilitas pangan nasional.
"Ketahanan pangan Indonesia secara mendasar sangat solid. Rakyat kita terjamin ketahanan pangannya," ujarnya.
Kesuksesan pangan, lanjut Hashim juga bisa dilihat dari swasembada beras. Bahkan, food estate pemerintah seluas dua juta hektar tidak mengalihfungsikan kawasan hutan di Papua.
Menurutnya, pemerintah juga menetapkan kebijakan strategis terkait keberpihakan kepada para petani di dalam negeri. Salah satunya dengan menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah/beras 50 persen dan menurunkan harga pupuk 20 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....