Kendalikan Populasi, PDHI-Pemprov DKI Target Sterilisasi 1000 Ekor Kucing

  • 06 Okt 2026 19:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sterilisasi kucing digelar di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu
  • Kegiatan menargetkan 125 kucing
  • PDHI DKI Jakarta bekerja sama dengan Sudin KPKP Kepulauan Seribu
  • Sterilisasi bertujuan mengendalikan populasi kucing di wilayah kepulauan
  • Kegiatan juga mencakup vaksinasi rabies dan penanganan kesehatan kucing

RRI.CO.ID, Jakarta - Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang DKI Jakarta bersama Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu menggelar sterilisasi kucing. Kegiatan berlangsung ditarget menyasar 125 kucing di Pulau Untung Jawa, Selasa 6 Oktober 2026.

Ketua PDHI Cabang DKI Jakarta, dokter hewan M. Th. Widiastuti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi pelaksanaan kedelapan yang digelar PDHI di wilayah Kepulauan Seribu.

“Tujuannya untuk mengendalikan populasi kucing. Di pulau-pulau, makanan cukup tersedia sehingga kucing cepat berkembang biak,” ujar Widiastuti.

Ia menjelaskan, kucing betina dapat melahirkan hingga tiga kali dalam setahun. Selain sterilisasi untuk mengendalikan populasi, vaksinasi dilakukan untuk mencegah penularan rabies.

Dokter Hewan dari Klinik EMYE, Muhammad Yusuf, mengatakan pemeriksaan sebelum sterilisasi dapat menemukan masalah pada organ reproduksi kucing. Salah satu kondisi yang dapat ditemukan yakni pyometra, yaitu infeksi pada rahim kucing.

Menurut Yusuf, sterilisasi juga menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan kucing, terutama kucing liar yang jarang mendapat pemeriksaan. Kondisi kesehatan tersebut menjadi pertimbangan sebelum kucing menjalani tindakan sterilisasi.

“Untuk jantan, sayatannya di bagian skrotum atau testis. Kalau betina, sayatannya di bagian perut untuk mengangkat rahim dan ovarium,” ujar Muhammad Yusuf.

Muhammad Yusuf menjelaskan, operasi kucing jantan biasanya berlangsung sekitar 2,5 hingga lima menit. Sementara kucing betina membutuhkan waktu sekitar lima hingga 15 menit, tergantung kondisi kucing.

Ia mengatakan kucing yang sedang sakit, mengalami dehidrasi berat, atau sangat lemah tidak dapat langsung menjalani sterilisasi. Sementara kucing dalam kondisi sehat pada umumnya dapat menjalani prosedur tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu, Sandri Oktama, mengatakan kegiatan dilakukan rutin setiap tahun. Target sterilisasi dan vaksinasi mencapai sekitar 1.000 kucing di 11 pulau berpenduduk.

“Selain sterilisasi, kami juga memberikan vaksin rabies, vitamin, serta penanganan penyakit pada kucing,” kata Sandri.

Selain itu, Sandri mengatakan pengendalian populasi kucing membutuhkan tanggung jawab bersama masyarakat. Warga juga diminta rutin memeriksa kondisi kucing dan melaporkan jika ditemukan kelainan.

Sandri mengatakan tingginya biaya sterilisasi secara mandiri membuat kegiatan seperti ini mendapat antusiasme masyarakat. Menurutnya, layanan sterilisasi di Jakarta tetap tersedia setiap hari, tetapi jumlahnya terbatas karena keterbatasan sumber daya manusia.

“Kalau di Jakarta biaya sterilisasi itu bisa mencapai Rp300 ribu sampai jutaan rupiah. Jadi setiap kita membuka kegiatan seperti ini biasanya masyarakat cukup ramai,” ujar Sandri.

“Kami sebenarnya setiap hari juga membuka jasa sterilisasi di Jakarta. Namun karena sumber daya manusianya terbatas, dalam sehari paling sekitar 60 ekor,” katanya.

Lurah Pulau Untung Jawa, Muslim, mengatakan keberadaan kucing cukup banyak di wilayahnya. Kucing yang ditemukan merupakan kucing liar maupun kucing yang dipelihara warga.

Menurut Muslim, sebagian kucing dapat datang dari pulau lain maupun daratan melalui kapal. Kucing juga terkadang berpindah dari satu kapal ke kapal lainnya hingga akhirnya berada di Pulau Untung Jawa.

“Dulu populasinya bisa lebih dari 600 ekor. Setelah beberapa kali dilakukan sterilisasi, jumlahnya mulai berkurang,” ujar Muslim.

Ia mengatakan keberadaan kucing terkadang mengganggu warga dan wisatawan, terutama ketika kucing mencari makanan. Namun, sebagian besar warga tetap memberi makan kucing, termasuk ikan dan sisa makanan.

Muslim berharap tersedia tempat khusus untuk menampung dan merawat kucing di Pulau Untung Jawa. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut dapat membantu pengelolaan populasi kucing secara lebih teratur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....