Produksi Padi hingga Agustus Capai 43,89 Juta Ton

  • 04 Okt 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling
  • Produksi meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama 2025
  • Luas panen mencapai 8,32 juta hektare, naik 0,11 persen
  • Produksi beras untuk konsumsi mencapai 25,29 juta ton, naik 0,07 persen
  • Pemerintah memperkuat pompanisasi dan pengelolaan air menghadapi potensi El Nino

RRI.CO.ID, Jakarta - Produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tetap Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan capaian tersebut dihitung berdasarkan luas panen dan produktivitas padi. Penghitungan untuk Januari-Agustus 2026 telah menggunakan data final dan berstatus angka tetap.

“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng dalam penyampaian Rilis BPS, Kamis 1 Oktober 2026.

Kenaikan produksi juga tercermin dari luas panen padi pada periode tersebut. BPS mencatat luas panen Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.

Produksi padi tersebut turut menopang produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat. Produksi beras Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujarnya.

Capaian produksi tersebut berlangsung di tengah tantangan perubahan cuaca dan potensi El Nino. Potensi El Nino dengan intensitas kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan dan memengaruhi ketersediaan air bagi pertanian.

Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat dukungan kepada petani dalam menghadapi tantangan produksi. Pemerintah juga berupaya menjaga ketersediaan air untuk memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” ucap Amran.

Ateng menjelaskan capaian produksi Januari-Agustus 2026 telah berstatus angka tetap. Sementara produksi September-November 2026 masih berstatus angka potensi dan produktivitasnya masih berupa angka sementara.

Perkembangan produksi pada periode berikutnya masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan. Perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen dapat memengaruhi realisasi produksi.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen September-November. Sentra tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Jawa Barat, potensi panen antara lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Sementara di Jawa Timur terdapat Ngawi, sedangkan sejumlah sentra Sulawesi antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai.

Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus, produksi nasional masih menunjukkan pertumbuhan. Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga produksi dan produktivitas padi menghadapi tantangan iklim hingga akhir 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....