Produksi Padi Cerdas Iklim Perlu Didukung Teknologi Terintegrasi
- 09 Sep 2026 19:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Peneliti Postdoctoral Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Wiraguna, menyatakan konsep produksi padi cerdas iklim perlu diarahkan pada tiga tujuan utama, yakni produktivitas, adaptasi, dan mitigasi. Konsep ini bukan sekadar penerapan teknologi, tetapi bagaimana berbagai komponen dapat diintegrasikan sesuai kondisi lingkungan dan kebutuhan petani.
“Ketiganya harus berjalan beriringan agar peningkatan produksi tetap mampu menjawab tantangan iklim sekaligus menekan dampak lingkungan,” kata Edi, dalam Webinar Teras-TP #2, bertema “Climate-Resilient Rice Production: Advancing Smart Cultivation Technologies and Integrated Pest & Disease Management for Sustainable Food Security”, Kamis, 3 September 2026.
Sejumlah pendekatan dapat diintegrasikan untuk mencapai tujuan tersebut, antara lain penggunaan varietas yang adaptif, pengelolaan air dan hara secara efisien, peningkatan kualitas tanah, pengendalian hama terpadu, serta pemanfaatan teknologi digital.
Salah satu teknologi yang disoroti adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan berselang yang dapat membantu menghemat air sekaligus mengurangi emisi metana dari lahan sawah. Sementara itu, site-specific nutrient management (SSNM) memungkinkan pemberian pupuk disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
“Intervensi terbaik bukanlah satu teknologi tunggal, melainkan paket teknologi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat,” tegas Edi.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu dengan mengombinasikan varietas tahan, praktik budi daya yang tepat, pengendalian biologis, serta penggunaan pestisida secara bijak. Di sisi lain, sensor, drone, satelit, dan data cuaca dapat dimanfaatkan untuk membantu petani mengambil keputusan secara lebih tepat dan cepat.
“Teknologi digital akan memberikan manfaat ketika informasi yang dihasilkan bersifat lokal, tepat waktu, mudah dipahami, dan terhubung langsung dengan pengambilan keputusan oleh petani,” katanya.
Kepala PRTP BRIN, Yudhistira Nugraha, menyebutkan cadangan beras Indonesia tahun ini telah mendekati lima juta ton dan terdapat target untuk mencapai kondisi tanpa impor beras. Namun, capaian tersebut menurutnya tetap perlu diantisipasi karena adanya ancaman perubahan kondisi iklim.
“BMKG telah memberikan peringatan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering dari biasanya. Capaian cadangan beras merupakan kabar baik, tetapi tetap rentan apabila kita tidak siap,” jelasnya.
Yudhistira menambahkan, produksi padi menghadapi persoalan yang bersifat dua arah. Di satu sisi, tanaman padi terdampak perubahan iklim, sementara di sisi lain sistem produksi padi juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama metana dari lahan sawah.
“Inovasi teknologi budi daya dan pengelolaan hama penyakit bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera diterapkan di lapangan,” pungkasnya. (aa, ta/ed:ade, tnt)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....