Pemerhati Bahas Seni Bisa Bantu Pulihkan Trauma Anak

  • 03 Okt 2026 17:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Seni terapi adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni untuk membantu pemulihan trauma anak dengan cara mengekspresikan perasaan tanpa tekanan.
  • Proses kreatif dalam seni terapi melibatkan dua komponen penting: aktivitas kreatif dan hasil karya seni yang dihasilkan.
  • Menurut Dewi Rosyana, dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, seni dapat menjadi wadah aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan secara verbal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Dewi Rosyana, mengatakan, seni dapat membantu pemulihan trauma anak. Selain itu, lanjut dia, seni juga dapat menjadi media untuk mengekspresikan perasaan tanpa tekanan.

“Art terapi ini salah satu bentuk psikoterapi yang menggunakan medianya seni. Ada proses kreatif, ada hasil karya seninya,” kata Dewi dalam dialog bersama Pro3 RRI, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurutnya, terapi seni memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi perasaan yang sulit disampaikan secara langsung. Ia menjelaskan, terapi tersebut dapat dilakukan melalui melukis, kolase, mewarnai, hingga membuat karya berbentuk patung.

“Ini bisa dalam bentuk melukis, bisa dalam bentuk misalnya seni, bentuk yang sculpting, kolase, mewarnai. Itu bentuknya bisa seperti itu,” ujarnya.

Ia mengatakan, anak terlebih dahulu perlu ditempatkan pada lingkungan yang membuatnya merasa aman. Menurutnya, anak kemudian dapat diberikan instruksi ringan untuk menggambar perasaan atau tempat yang membuatnya nyaman.

“Jadi kita tidak meminta dia untuk menggambar traumanya. Psikolognya tidak memaksakan korban untuk menggambar tentang kejadiannya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pendamping memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan anak setelah mengalami bencana. Menurutnya, pendamping dapat membantu anak bercerita tanpa memaksakan pembahasan tentang pengalaman traumatis.

“Yang mau kita bantu itu bagaimana caranya aku bisa ngatur hidup aku lagi. Jadi bagaimana caranya anak itu bisa mengembalikan rasa kontrol dalam kehidupannya,” katanya.

Menurutnya, proses pemulihan membutuhkan waktu dan dukungan dari lingkungan sekitar anak. Ia mengatakan, keluarga perlu mendampingi anak tanpa memaksanya menceritakan pengalaman ketika belum siap.

“Jadi biarkan dia bicara ketika dia sudah siap. Jangan dipaksa untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya,” ujarnya.

Selain itu, latihan pernapasan juga dapat membantu menurunkan tekanan setelah mengalami peristiwa traumatis. Menurutnya, teknik tersebut dapat dilakukan dengan cara tersendiri.

“Teknik relaksasi melalui tarik napas empat detik, tahan empat detik, buang empat detik. Itu dilakukan berulang-ulang untuk membantu menurunkan hormon stress," katanya. (Nadya Syifa Syauqiyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....