Kemenperin Dorong Inovasi Batik agar Relevan bagi Generasi Masa Kini
- 03 Okt 2026 09:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian secara aktif mendorong pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengembangan industri batik mencakup aspek desain, produksi, dan pemasaran.
- Batik dikembangkan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini tanpa menghilangkan karakter dan nilai budaya asli.
- Pengembangan batik memerlukan keseimbangan strategis antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar sesuai pernyataan Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia.
RRI.CO.ID, Surabaya - Kementerian Perindustrian terus memacu pemanfaatan inovasi dan teknologi sebagai bagian dari pengembangan industri batik, termasuk dalam desain, produksi, dan pemasaran. Batik juga terus dihadirkan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati mengatakan pengembangan batik perlu memperhatikan keterhubungan antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar. Menurutnya, batik dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk tanpa kehilangan karakter dan nilai budaya yang melekat.
“Pengembangan batik ke depan perlu memperhatikan keterhubungan. Antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar,” ujar Syukur Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya, Kamis, 1 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kemenperin, terdapat sekitar 5.946 industri batik yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Ekosistem tersebut mencakup lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi dengan tenaga kerja mencapai sekitar 47 ribu orang.
Idayati menuturkan nilai ekspor batik meningkat dari USD15,20 juta pada 2024 menjadi USD20,14 juta pada 2025. Pertumbuhan ekspor batik pada periode tersebut mencapai 32,5 persen.
Pada Semester I 2026, nilai ekspor batik tercatat USD4,39 juta. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan USD5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Idayati, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan produk dan pasar yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Ia menyebut batik dapat dikembangkan ke dalam produk fesyen siap pakai, aksesori, dan berbagai produk gaya hidup.
“Batik dapat dikembangkan ke dalam produk ready-to-wear, aksesori, maupun berbagai produk gaya hidup yang memiliki keterkaitan dengan rantai nilai fesyen. Pendekatan ini memungkinkan batik memiliki ruang yang lebih luas untuk menjangkau konsumen tanpa harus melepaskan karakter dan nilai budaya,” katanya.
Selain pengembangan produk, pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari pengembangan industri batik. Teknologi dapat digunakan untuk eksplorasi motif, pengembangan desain, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.
Prinsip keberlanjutan juga dapat diterapkan sejak tahap perancangan produk. Penerapannya mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, serta keberlangsungan pelaku dan pengetahuan tradisional.
Founder Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman menyampaikan perkembangan digital dimanfaatkan untuk mengeksplorasi desain tanpa menggantikan proses utama dalam pembuatan batik tulis. Rumah Batik Jawa Timur telah menjalankan usaha batik tulis secara turun-temurun selama tiga generasi.
“Digital bukan pengganti tradisi. Tapi sebagai salah satu alat untuk menjaganya tetap hidup,” ujar Syarif Usman.
Syarif menjelaskan keberlanjutan batik juga berkaitan dengan regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur memberikan pelatihan batik tradisional kepada 700 sekolah dasar di Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pengenalan keterampilan dan nilai budaya batik kepada generasi muda. Hal ini berkaitan dengan keberlanjutan batik yang membutuhkan regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....