Kemendikdasmen: Budaya Sekolah Aman Jadi Fondasi Pembelajaran

  • 02 Okt 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Budaya sekolah aman menjadi fondasi pembelajaran yang memungkinkan murid belajar, berkembang, dan mencapai prestasi secara optimal.
  • Keamanan lingkungan sekolah dan pencapaian kompetensi akademik bukan agenda yang saling berkompetisi, melainkan harus saling menguatkan.
  • Guru memiliki tanggung jawab memastikan murid mencapai kompetensi akademik melalui penerapan budaya sekolah yang aman.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rusprita Putri Utami menilai budaya sekolah aman menjadi fondasi pembelajaran. Menurutnya, lingkungan yang aman membantu murid belajar, berkembang, dan mencapai prestasi secara optimal.

“Keduanya bukan dua agenda yang saling berkompetisi, tetapi justru harus saling menguatkan. Guru tetap bertanggung jawab memastikan murid mencapai kompetensi akademik melalui budaya sekolah yang aman,” ujarnya pada acara Webinar Internasional Seni Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Rusprita mengatakan murid sulit belajar optimal ketika datang ke sekolah dalam keadaan tertekan, takut, atau tidak diterima. Ia menilai perundungan juga dapat menghambat proses belajar murid di lingkungan sekolah.

Menurutnya, budaya sekolah aman dan nyaman bukan pekerjaan tambahan di luar pembelajaran. Budaya tersebut justru menjadi fondasi pembelajaran agar murid mampu belajar secara optimal di sekolah.

“Ketika murid merasa aman secara fisik, secara psikologis, kemudian akan merasa dihargai. Kondisi tersebut membantu murid membangun relasi baik dengan teman dan guru,” katanya.

Murid juga perlu berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan melakukan kesalahan dalam proses belajar. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menciptakan ruang belajar yang lebih kuat bagi murid.

“Pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih penting antara prestasi atau rasa aman. Melainkan sekolah harus menciptakan lingkungan aman agar setiap anak dapat belajar, berkembang, dan berprestasi optimal,” ucapnya.

Ia menilai sekolah tidak dapat membebankan pembangunan budaya aman dan nyaman hanya kepada guru. Pembangunan budaya sekolah aman perlu melibatkan seluruh ekosistem pendidikan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

“Kepala sekolah, tenaga kependidikan, orang tua, dan murid perlu juga terlibat dalam proses ini. Namun, guru memang menjadi unsur penting dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman,” katanya.

Ia menekankan sekolah hebat bukan hanya sekolah yang muridnya berprestasi atau memenangkan berbagai kompetisi. Melainkan, sekolah yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk belajar dengan rasa aman dan nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis menyoroti pendampingan murid. Ia menilai sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bertumbuh, berinteraksi, dan membentuk karakter.

Ia mengatakan pendampingan murid tidak hanya menjadi tanggung jawab guru bimbingan dan konseling. Menurutnya, seluruh guru perlu memiliki kemampuan dasar untuk melayani dan mendampingi murid.

“Guru perlu memastikan murid merasa dikenali, dihargai, didengar, dan didampingi selama menjalani kehidupan sekolah setiap hari. Perhatian tersebut semakin penting ketika murid menghadapi perbedaan atau persoalan dalam lingkungan sekolah,” ujarnya.

Arif juga berharap guru dapat menjadi teman bagi murid selama menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan di sekolah. Ia menilai peran tersebut penting agar guru membantu murid tumbuh menjadi manusia yang beradab. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....