Kemendikdasmen Jadikan MBG Bagian Pendidikan Gizi Sekolah

  • 23 Agt 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah didorong tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bagi peserta didik. Program tersebut perlu menjadi bagian dari pendidikan gizi dan pembentukan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, MBG berperan mendukung kecukupan gizi sekaligus kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran. Menurutnya, penyediaan makanan bergizi perlu berjalan beriringan dengan edukasi mengenai pola hidup sehat.

“Melalui program Makan Bergizi Gratis, kita berupaya meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Sekaligus memperkuat kesiapan mereka untuk belajar,” kata Tatang dalam peringatan 10 Tahun Nutrition Goes To School (NGTS) SEAMEO RECFON di Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2026.

Ia menilai pendekatan pendidikan gizi dapat memperkuat dampak program makanan bergizi di lingkungan sekolah. Semangat tersebut, kata Tatang, sejalan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang mendorong peserta didik menerapkan pola hidup sehat.

Kebiasaan tersebut antara lain mencakup aktivitas fisik dan olahraga secara rutin. Tatang menekankan setiap sekolah tidak harus menerapkan model pendidikan gizi yang seragam.

Sekolah dapat menentukan prioritas berdasarkan kondisi, kapasitas, serta sumber daya yang tersedia. “Satu sekolah mungkin memprioritaskan gizi, sekolah lainnya dapat meningkatkan kualitas kantin, atau memperkuat aktivitas fisik, kebun sekolah, keterlibatan orang tua dan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Tatang, pendekatan tersebut menempatkan sekolah sebagai bagian penting dalam mendorong perubahan perilaku hidup sehat. Sekolah tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan program, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

“Pendekatan ini mengakui satu hal yang penting: sekolah bukan sekadar tempat di mana program dilaksanakan. Tapi sekolah itu sendiri merupakan agen perubahan,” kata Tatang.

Menurutnya, filosofi tersebut sejalan dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah yang terus diperkuat Kemendikdasmen. Dengan pendekatan itu, sekolah memiliki ruang untuk mengembangkan program sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....