Mayjen R. Suprapto dan Perjuangannya Menjaga Kedaulatan Indonesia

  • 01 Okt 2026 12:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mayor Jenderal R. Suprapto adalah salah satu perwira tinggi TNI yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
  • Raden Suprapto dikenal menolak sejumlah gagasan politik terkait Angkatan Darat dan menunjukkan sikap independen sebagai perwira militer.
  • Suprapto bersama pemuda-pemuda di Cilacap aktif dalam menegakkan kedaulatan negara selama masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mayor Jenderal R. Suprapto merupakan salah satu perwira tinggi TNI yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Perjalanan hidup dan akhir kisahnya menjadi bagian dari sejarah tujuh Pahlawan Revolusi Indonesia.

Raden Suprapto dikenal sebagai perwira militer yang menolak sejumlah gagasan politik terkait Angkatan Darat. Ia juga bersama dengan pemuda-pemuda di Cilacap aktif dalam menegakkan kedaulatan negara dalam masa revolusi kemerdekaan.

Dikutip dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), R. Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 20 Juni 1920. Ia tumbuh pada masa ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Suprapto mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan melanjutkan sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat di MULO, Suprapto mulai tertarik pada dunia militer yang terlihat pada kegemarannya melukis alat-alat perang.

Suprapto kemudian memasuki pendidikan militer pada Koninklijk Militaire Akademie (KMA) di Bandung. Belum sempat menyelesaikan pendidikannya, Suprapto ditangkap dan ditawan Jepang karena berstatus sebagai taruna Akademi Militer Belanda.

Pada saat Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk pada tanggal 5 Oktober 1945, Suprapto menggabungkan diri. Ia dipercaya menjabat sebagai kepala Bagian II divisi V TKR Purwokerto dengan pangkat Kapten.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, Suprapto ikut berjuang mempertahankan kedaulatan negara. Kemudian, ia menjalani karier militer dalam lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Dalam perjalanan kariernya, ia menduduki sejumlah jabatan penting di lingkungan Angkatan Darat. Pengalaman tersebut membawanya menjadi salah satu perwira tinggi militer Indonesia.

Suprapto dikenal dengan pangkat Mayor Jenderal sebelum peristiwa G30S pada 1965. Ia menjabat sebagai salah satu pimpinan dalam struktur komando Angkatan Darat.

Pada masa itu, situasi politik Indonesia menghadapi ketegangan antara sejumlah kekuatan politik dan militer. Perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan pertahanan juga turut mewarnai situasi nasional.

Suprapto termasuk perwira yang menolak gagasan pembentukan Angkatan Kelima yang didukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Gagasan tersebut mengusulkan persenjataan bagi kelompok buruh dan tani.

Ketegangan politik meningkat menjelang akhir September 1965. Situasi tersebut menjadi latar belakang terjadinya penculikan sejumlah perwira Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa mendatangi kediaman Suprapto di Jakarta. Gonggongan anjing membangunkannya, lalu ia membuka pintu setelah mendengar jawaban penculik dari luar.

Komandan pasukan penculik, Serda Sulaiman meminta Suprapto menghadap presiden saat itu juga. Saat meminta waktu berganti pakaian, para penculik menolaknya dan memaksanya masuk truk menuju Lubang Buaya.

Petugas menemukan jenazah Suprapto bersama enam korban lainnya di sumur tua kawasan Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Penemuan tersebut mengungkap nasib tujuh perwira dan ajudan yang menjadi korban peristiwa itu.

Pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Revolusi kepada Suprapto sebagai penghormatan atas pengabdiannya. Negara juga menaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Letnan Jenderal. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....