Luncurkan Buku, Rifyan Ridwan Saleh Deklarasi Maju Caketum PB HMI

  • 01 Okt 2026 00:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rifyan Ridwan Saleh mendeklarasikan diri sebagai bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2027–2029.
  • Deklarasi tersebut disampaikan bersamaan dengan peluncuran bukunya, HMI in The Future: Gagasan, Arah Baru, dan Peran Strategis HMI di Indonesia Masa Depan, di Sadjoe Cafe & Resto, Jakarta, Selasa 29 September 2026.
  • Rifyan mengaku ingin membawa gagasan yang dituangkannya dalam buku ke dalam ruang pengabdian nyata di HMI.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rifyan Ridwan Saleh mendeklarasikan diri sebagai bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2027–2029. Deklarasi itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran bukunya, HMI in The Future: Gagasan, Arah Baru, dan Peran Strategis HMI di Indonesia Masa Depan, di Sadjoe Cafe & Resto, Jakarta, Selasa 29 September 2026.

Momentum tersebut berlangsung menjelang Kongres HMI XXXIII yang akan digelar di Lampung pada November 2026. Peluncuran buku menjadi ruang bagi Rifyan untuk memaparkan gagasan mengenai arah masa depan HMI sekaligus menyatakan kesiapannya masuk dalam kontestasi kepemimpinan PB HMI.

Rifyan mengatakan keputusan maju sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI bukan semata untuk mengejar jabatan. Ia ingin membawa gagasan yang dituangkannya dalam buku ke dalam ruang pengabdian nyata di HMI.

“Saya tidak ingin gagasan-gagasan dalam buku ini berhenti menjadi tulisan, saya memilih untuk memperjuangkannya. Saya menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI Periode 2027–2029 karena saya ingin menghibahkan diri, pikiran, pengalaman, waktu, dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk umat dan bangsa melalui HMI,” ujar Rifyan.

Menurutnya, kepemimpinan di HMI tidak seharusnya dimaknai sebatas perebutan posisi. Jabatan, kata Rifyan, merupakan instrumen untuk menerjemahkan gagasan menjadi kerja dan pengabdian.

“Bagi saya, menjadi Ketua Umum bukanlah tujuan akhir, jabatan hanyalah alat untuk menghidupkan gagasan. Yang jauh lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya.

Staf Khusus Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Ilham Akbar Mustafa, mengapresiasi langkah Rifyan menerbitkan buku di tengah momentum menuju Kongres HMI. Menurutnya, terlepas dari posisi Rifyan sebagai kandidat, buku tersebut dapat mendorong agar kontestasi kepemimpinan HMI tidak berhenti pada mobilisasi politik, tetapi juga diisi pertukaran gagasan.

“Upaya dia untuk menghadirkan karya lewat buku adalah upaya serius untuk menggeser percakapan Kongres HMI. Dari sekadar perbincangan mobilisasi politik menuju percakapan substantif terkait pikiran dan gagasan,” ujar Ilham.

Ia menilai tradisi intelektual perlu terus dirawat di lingkungan HMI. Salah satunya dengan mendorong para kandidat menghadirkan karya dan pemikiran yang dapat diuji oleh publik organisasi.

Ilham juga menekankan pentingnya rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikiran dalam melihat figur yang sedang berada dalam proses kontestasi kepemimpinan.

“Kita tidak bisa menghukumi masa depan yang nisbi, tapi kita bisa menilai seseorang dari rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikirannya di masa lalu. Itu formula meritokratik untuk memilih pemimpin,” katanya.

Ia berharap langkah Rifyan dapat diikuti kandidat lainnya sehingga Kongres HMI memiliki ruang pertukaran gagasan yang lebih kuat. “Apa yang Rifyan mulai, dan saya berharap juga diikuti oleh kandidat-kandidat yang lain, adalah upaya untuk menjaga nyala lilin itu tetap menyala,” ujar Ilham.

Menurutnya, buku yang diluncurkan Rifyan juga akan menjadi bagian dari rekam gagasan yang dapat diuji melalui konsistensi antara apa yang ditulis dan apa yang dilakukan. “Kelak, buku ini akan menjadi alat uji bagi Rifyan di masa depan; seberapa konsisten dan komit dia pada apa yang ditulisnya dan pada apa yang dilakukannya,” katanya.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., menilai gagasan yang dituangkan Rifyan dalam HMI in The Future relevan dengan perkembangan zaman. Namun, menurutnya, pembicaraan mengenai masa depan tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan kondisi hari ini.

“Buku ini sangat relevan dengan zaman, tetapi kita juga perlu belajar dari masa lalu dan mengamati masa kini, dari sana kita berangkat untuk merebut masa depan yang lebih baik,” ujar Juanda. Ia mengatakan perspektif tersebut penting bagi kader HMI yang sedang menjalani proses pembelajaran dan pengembangan diri.

“Khususnya bagi para kader HMI yang sedang berproses, jangan hanya melihat apa yang terjadi hari ini. Pelajari masa lalu, amati masa kini, kemudian siapkan diri untuk masa depan. Karena masa depan itu harus dipersiapkan dan diperjuangkan,” ucapnya.

Juanda juga menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan peluncuran buku tersebut. “Adinda Rifyan perlu didukung, saya menunda kegiatan-kegiatan saya untuk menghadiri kegiatan ini agar bisa menyaksikan pimpinan di masa depan melalui Himpunan Mahasiswa Islam untuk Indonesia maju 2045,” ujarnya.

Sementara itu, praktisi hukum Dr. (c) Ojak Situmeang, menyoroti keberanian Rifyan dalam menyampaikan gagasan. Termasuk ketika berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

“Kalau kita melihat dan mengamati gagasan-gagasan yang disampaikan Rifyan, saya melihat dia adalah seseorang yang mau mendengar dan berani menyatakan pendapatnya, bahkan jika itu berbeda. Bagi saya, keberanian untuk berpikir dan menyampaikan gagasan adalah sesuatu yang penting,” ujar Ojak.

Ojak juga menilai gagasan yang ditawarkan Rifyan memiliki relevansi bagi pembicaraan mengenai masa depan HMI. “Meskipun saya seorang non-Muslim, karena membaca gagasan besar saudara Rifyan, saya meyakini bahwa HMI bisa menjadi lebih berjaya di masa depan dengan gagasan, gerakan, dan kesiapan generasinya,” katanya.

Menurutnya, keberlanjutan organisasi tidak cukup hanya dengan melahirkan gagasan. Gagasan tersebut harus diterjemahkan menjadi gerakan dan dipersiapkan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Karena itu, bagi saya, HMI in The Future bukan hanya berbicara tentang HMI hari ini, tetapi juga tentang bagaimana gagasan itu dipersiapkan menjadi gerakan dan kemudian diwariskan kepada generasi yang akan datang,” ucapnya

Siap Menghibahkan Diri untuk HMI

Bagi Rifyan, peluncuran buku dan deklarasi pencalonannya merupakan satu rangkaian ikhtiar untuk membawa gagasan ke ruang pengabdian.

Ia menegaskan kesediaannya untuk mengabdikan waktu, pikiran, pengalaman, dan kemampuannya melalui HMI.

“Saya menghibahkan diri untuk umat dan bangsa. Jika HMI memberi saya ruang untuk berjuang, maka saya akan menggunakan ruang itu untuk bekerja. Bukan untuk membesarkan diri, tetapi untuk membesarkan gagasan, membangun sistem, memperkuat kader, dan memastikan HMI tetap memiliki relevansi bagi Indonesia di masa depan,” ujarnya.

Melalui HMI in The Future, Rifyan menuangkan gagasan mengenai arah baru dan peran strategis HMI dalam menghadapi perubahan zaman. Ia menempatkan gagasan sebagai titik awal, gerakan sebagai proses, dan generasi sebagai tujuan.

Peluncuran buku sekaligus deklarasi tersebut turut dihadiri sejumlah alumni HMI (KAHMI), senior, serta tokoh HMI. Kehadiran mereka mewarnai momentum tersebut dengan dukungan moral dan suasana kekeluargaan antargenerasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....