Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Berpikir Kritis di Era AI
- 30 Sep 2026 18:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan invotif menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat
- Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyoroti pentingnya mengubah bonus demografi Indonesia menjadi bonus kompetensi. Menurutnya, pemerintah, BI, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bersinergi dalam menyiapkan generasi muda.
- CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi menilai kemampuan berpikir kritis menjadi penting ketika masyarakat semakin banyak menggunakan AI
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan inovatif di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Menurutnya, perkembangan AI turut mengubah kebutuhan kompetensi talenta.
Oleh karena itu pendidikan tinggi perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengevaluasi keluaran AI. Baik dari sisi kebenaran, efisiensi, maupun kualitasnya.
"Kalau kita ingin berkompetisi di dunia yang didominasi oleh AI ini, pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menyesuaikan orang-orang yang mampu mengevaluasi AI. Mampu mengevaluasi keluaran dari AI ini benar atau tidak, efisien atau tidak, bagus atau tidak," ujar Stella dalam High Level Talk bertajuk "Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi" di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, dikutip Rabu, 30 September 2026.
Stella mengatakan, kemampuan mengevaluasi AI perlu berjalan bersama dengan penguatan inovasi dan pola pikir kritis dalam proses pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi justru membuat kemampuan tersebut semakin dibutuhkan.
"Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu penting, sekarang lebih penting lagi," ucapnya.
Selain penguatan kompetensi talenta, Stella menyoroti pentingnya riset di perguruan tinggi sebagai bagian dari pengembangan inovasi. Riset dinilai dapat berkontribusi terhadap pengembangan teknologi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Ini yang harus kita lakukan di Indonesia, riset di universitas. Economic growth juga menunjukkan hal tersebut, bahwa inovasi yang akan memimpin pertumbuhan," ujar Stella.
Pentingnya penguatan kompetensi juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Ia mengatakan, bonus demografi Indonesia perlu diarahkan menjadi bonus kompetensi melalui sinergi pemerintah, BI, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menyiapkan generasi muda.
Sementara itu, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menilai kemampuan berpikir kritis semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI. Pengguna perlu mengevaluasi kembali hasil analisis yang diberikan teknologi sebelum menjadikannya dasar dalam pengambilan keputusan.
"Pertanyaannya adalah bagaimana penggunanya ini bisa menilai analisisnya benar atau tidak. Hence the critical thinking itu sangat diperlukan di universitas," ujar Neneng.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....