Indonesia Perkuat Kolaborasi Kecerdasan Buatan lewat Organisasi Global
- 22 Jul 2026 09:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Keanggotaan tersebut membuka peluang memengaruhi kebijakan internasional sekaligus memperluas jaringan kerja sama teknologi lintas negara.
- Keikutsertaan Indonesia memberikan posisi strategis untuk memengaruhi tata kelola kecerdasan buatan global sekaligus memperluas jaringan internasional
- Indonesia memerlukan akses teknologi kecerdasan buatan terbaru guna memperkuat riset, keamanan siber, serta pengelolaan risiko nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Founder and Chairman Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K, menyambut bergabungnya Indonesia sebagai pendiri organisasi kecerdasan buatan global WICO bersama tiga puluh negara. Ia berpandangan keanggotaan tersebut membuka peluang memengaruhi kebijakan internasional sekaligus memperluas jaringan kerja sama teknologi lintas negara.
“Keikutsertaan Indonesia memberikan posisi strategis. Yakni, untuk memengaruhi tata kelola kecerdasan buatan global sekaligus memperluas jaringan internasional,” tutur Ardi Sutedja kepada PRO3 RRI.
Ardi memaparkan Indonesia memerlukan akses teknologi kecerdasan buatan terbaru guna memperkuat riset, keamanan siber, serta pengelolaan risiko nasional. Baginya, kolaborasi internasional menghadirkan kesempatan mempelajari inovasi mutakhir sekaligus mempercepat penguasaan teknologi yang masih berkembang di dalam negeri.
“Kami membutuhkan akses terhadap teknologi terbaru dan penelitian. Kemudian, cara mengelola keamanan dan risiko kecerdasan buatan secara global,” paparnya.
Ardi mengingatkan kesiapan Indonesia masih memerlukan penguatan pada infrastruktur, regulasi, talenta, ekosistem inovasi, literasi, serta etika kecerdasan buatan. Ia meyakini pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar Indonesia mampu sejajar dengan negara anggota WICO lainnya.
“Kita harus menilai kemampuan sendiri. Mulai dari infrastruktur, regulasi, talenta, hingga etika sebelum benar-benar sejajar dengan negara lain,” ujarnya.
Dirinya menguraikan transparansi kebijakan dan sosialisasi regulasi kecerdasan buatan kepada masyarakat serta industri masih harus ditingkatkan bersama. Menurutnya, pemahaman yang merata akan mempercepat adopsi teknologi sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Ardi menambahkan pengembangan kecerdasan buatan diharapkan mampu mempercepat kemajuan usaha mikro melalui peningkatan akses teknologi, pembiayaan, dan perlindungan usaha. Ia menilai masyarakat perlu terus mempelajari kecerdasan buatan agar teknologi dimanfaatkan secara aman, bertanggung jawab, serta memberikan manfaat luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....