Mengenal 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30S/PKI
- 30 Sep 2026 13:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965 dini hari menewaskan tujuh perwira militer Indonesia yang dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.
- Enam dari tujuh korban merupakan perwira TNI Angkatan Darat, satu lainnya adalah Pierre Tendean, ajudan Jenderal A.H. Nasution.
- Ketujuh Pahlawan Revolusi diabadikan dalam Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) menewaskan tujuh orang yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia. Mereka merupakan tokoh militer yang gugur dalam rangkaian penculikan pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari.
Enam diantaranya merupakan perwira TNI Angkatan Darat, dan satu lainnya ajudan Jenderal A.H. Nasution, Pierre Tendean. Mereka kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan diabadikan dalam Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Kisah ketujuh tokoh ini mencakup pengabdian militer, peristiwa penculikan, serta penghormatan negara setelah mereka gugur.
Dikutip dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), berikut daftar dan riwayat tujuh Pahlawan Revolusi:
1. Jenderal Ahmad Yani
Ahmad Yani menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum peristiwa G30S. Pada tanggal 1 Oktober 2026, segerombolan pasukan berseragam Cakrawibawa menerobos masuk kedalam rumahnya.
Tak lama setelah itu, Ahmad Yani akhirnya tertembak di depan kamarnya yang disaksikan oleh anak-anaknya. Segerombolan pasukan itu lalu menyeret jenazahnya dan membawanya ke Lubang Buaya di Kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.
2. Letnan Jenderal R. Suprapto
Raden Suprapto merupakan perwira tinggi Angkatan Darat (AD) yang menjadi korban penculikan dalam peristiwa G30S. Sama seperti perwira tinggi AD lainnya, ia tegas menolak pembentukan Angkatan V yang disponsori oleh PKI.
Para penculik membawanya dari kediamannya di Jakarta, kemudian membunuhnya di kawasan Lubang Buaya. Pada tanggal 5 Oktober 1965 keluar Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Indonesia/Komando Operasi tertinggi No. 110/KOTI/1965, Mayor Jenderal TNI R. Suprapto diberikan kenaikan pangkat Anumerta.
3. Letnan Jenderal M.T. Haryono
Mas Tirtodarmo Haryono menjabat Deputi III Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum peristiwa tersebut. Ketika mengemban jabatan ini pula, ia dijemput paksa oleh Cakrabirawa pada dini hari, 1 Oktober 1965.
M.T. Haryono sempat melawan saat ia dijemput paksa oleh para penculik. Karena melawan, ia ditembak di tempat dan dilempar ke truk oleh pasukan yang menculiknya.
4. Letnan Jenderal S. Parman
Siswondo Parman merupakan perwira Angkatan Darat yang menjabat Asisten I bidang Intelijen. Selama menjabat, ia beberapa kali menentang kebijakan PKI seperti pembentukan Angkatan V untuk mempersenjatai buruh dan tani.
Pasukan penculik yang dipimpin Serma Satar tiba di rumah S. Parman, Jakarta, pada pukul 04.00 WIB. S. Parman mengenakan seragam lengkap setelah pasukan Cakrabirawa memintanya menghadap Presiden, lalu membawanya ke Lubang Buaya.
5. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan
Donald Isaac Panjaitan menjabat Asisten IV Menteri Panglima Angkatan Darat dengan tanggung jawab bidang logistik. Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, sekelompok prajurit mendatangi kediaman D.I. Panjaitan.
D.I. Panjaitan gugur dengan menggunakan seragam militer lengkap. Sebelum ditembak, ia tidak mengikuti perintah untuk bersiap dan memilih untuk berdoa.
6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo menjabat sebagai Inspektur Kehakiman atau Oditur Jenderal Angkatan Darat sebelum peristiwa G30S. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, satu peleton resimen Cakrabirawa berkumpul di Lubang Buaya untuk menculiknya.
Pada pukul 04.00 WIB rombongan penculik sampai di rumah Mayjen Sutoyo dan masuk rumah melalui garasi sebelah kanan. Setelah membuka pintu, para penculik menerobos masuk dan membawanya dengan paksa menuju ke Lubang Buaya.
7. Kapten Pierre Andreas Tendean
Pierre Andreas Tendean merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution yang ikut menjadi korban penculikan. Para penculik menangkapnya setelah mengira dirinya sebagai Nasution, kemudian membawanya ke Lubang Buaya.
Petugas menemukan jenazah ketujuh korban di sebuah sumur tua kawasan Lubang Buaya. Pada 5 Oktober 1965, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada ketujuh korban melalui keputusan resmi. (Davina Keisha Salsabila)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....