Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir di Sukabumi Disahkan Jadi Museum
- 13 Sep 2026 17:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli meresmikan rumah pengasingan Hatta dan Sjahrir di Sukabumi menjadi museum sejarah.
- Museum menghadirkan narasi sejarah modern untuk mengenalkan perjuangan para pendiri bangsa kepada generasi muda.
- Pemerintah mendaftarkan situs tersebut sebagai cagar budaya nasional setelah sebelumnya berstatus cagar budaya tingkat kota.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon meresmikan rumah pengasingan dua tokoh bangsa Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir menjadi museum. Bangunan bersejarah yang terletak di kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri ini, menyimpan memori kelam sekaligus heroik.
Tempat tersebut menjadi saksi bisu pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir sejak 3 Februari 1942, setelah sebelumnya dibuang dari Banda Neira. "Jadi dari Banda Neira dibawa ke Sukabumi pada awal tahun 1942 dan ditempatkan di sini selama 47 hari, mulai dari tanggal 3 Februari 1942," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Minggu, 13 September 2026.
Ia menambahkan, di kota berudara sejuk ini, Bung Hatta dan Bung Sjahrir tidak sendiri. Tokoh pergerakan lain seperti Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Iwa Kusuma Sumantri juga berada di wilayah Sukabumi.
Menurutnya, kehadiran museum ini dilengkapi dengan narasi modern agar generasi muda dapat menyegarkan kembali ingatan sejarah para pendiri bangsa. Terlebih, sebulan pasca-pengasingan, Jepang secara resmi masuk usai penyerahan kekuasaan oleh Belanda di Kalijati pada 7 Maret 1942.
"Ini adalah satu aset sejarah dan budaya yang penting untuk melengkapi puzzle sejarah kita. Yaitu memperlihatkan kepada generasi muda bagaimana perjuangan luar biasa dilakukan oleh para founding fathers kita yang diasingkan," katanya, menjelaskan.
Proses pemugaran situs ini tidak lepas dari kerja sama lintas sektoral. Yakni mulai dari Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Sukabumi, pihak keluarga, hingga jajaran kepolisian.
Dahulu, bangunan tersebut sempat difungsikan sebagai rumah dinas atau mes kepolisian yang mengalami sejumlah kerusakan. Melalui intervensi kurator dari Direktorat Sejarah dan Permuseuman, bentuk fisik dan warna bangunan dikembalikan ke bentuk aslinya.
Pemerintah kini tengah mendaftarkan tempat tersebut agar statusnya naik dari cagar budaya tingkat kota menjadi cagar budaya nasional. Peresmian ini menghadirkan keharuan tersendiri bagi pihak keluarga.
Putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kebudayaan atas perhatian terhadap perlindungan aset sejarah. Menurutnya, perlindungan aset sejarah penting untuk menjaga warisan bangsa sekaligus memperkuat pembentukan karakter generasi penerus.
"Di samping itu juga kita mengajak kembali, anak-anak muda terutama mengenal bagian satu sisi sejarah. Khususnya yang dulu tidak diperhatikan tapi ini sangat penting dalam alur perjalanan bangsa kita," ucapnya.
Hal senada diungkapkan oleh putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau yang akrab disapa Upik Sjahrir. Ia mengaku baru menyadari bahwa Sukabumi adalah titik krusial dalam peta pergerakan nasional ayahandanya.
"Begitu kembali ke Sukabumi, mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain," kata Upik. Meski berstatus sebagai tahanan di Sukabumi, aturan penahanan saat itu masih memperbolehkan mereka menerima tamu.
Tokoh-tokoh seperti Amir Sjarifuddin hingga kerabat Sjahrir datang silih berganti untuk berdiskusi. Dari ruang-ruang di Sukabumi inilah, konsolidasi dan strategi besar dirumuskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....