Bengkulu Berubah, Ini Daftar Wilayah Masuk Kategori FRQ Awan Cumulonimbus

  • 30 Sep 2026 08:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memperbarui, prakiraan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah udara Indonesia untuk periode 30 September-6 Oktober 2026.
  • Kategori FRQ, kata BMKG, menunjukkan pertumbuhan awan Cumulonimbus berpotensi mencakup area yang sangat luas di wilayah tersebut.
  • Dalam prakiraan 29 September-5 Oktober 2026, Bengkulu daratan tercatat berada dalam kategori FRQ.

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG memperbarui, prakiraan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah udara Indonesia untuk periode 30 September-6 Oktober 2026. Dalam prakiraan terbarunya, terdapat tiga kawasan masuk kategori Frequent (FRQ), karena memiliki potensi cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus 75 persen lebih.

Tiga wilayah tersebut berada di kawasan Samudra Hindia, yakni:

• Samudra Hindia barat Bengkulu

• Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai

• Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.

Kategori FRQ, kata BMKG, menunjukkan pertumbuhan awan Cumulonimbus berpotensi mencakup area yang sangat luas di wilayah tersebut. Namun, angka lebih dari 75 persen tersebut tidak dapat diartikan sebagai peluang hujan sebesar 75 persen.

BMKG menggunakan, persentase itu untuk menggambarkan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus yang diprakirakan tumbuh di suatu wilayah. Perubahan cukup menonjol terlihat pada wilayah Bengkulu jika dibandingkan dengan prakiraan periode sebelumnya.

Dalam prakiraan 29 September-5 Oktober 2026, Bengkulu daratan tercatat berada dalam kategori FRQ. Sedangkan, pada pembaruan terbaru, posisi FRQ bergeser ke kawasan Samudra Hindia barat Bengkulu.

Sementara, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias tetap tercatat sebagai wilayah pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori FRQ. Kondisi tersebut, menunjukkan adanya perubahan spasial dalam prakiraan pertumbuhan awan dari satu periode ke periode berikutnya.

Selain tiga wilayah FRQ, BMKG mencatat sejumlah wilayah lain dalam kategori Occasional (OCNL). Kategori tersebut, berarti cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus diprakirakan berada pada kisaran 50 hingga 75 persen.

Di Pulau Sumatra, wilayah yang masuk kategori OCNL mencakup Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sementara di Pulau Jawa, kategori tersebut tercatat untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori OCNL juga terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan. Daerah yang masuk dalam prakiraan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Di kawasan timur Indonesia, kategori OCNL tercatat di Sulawesi Barat serta Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah. Potensi serupa, juga muncul di sejumlah wilayah perairan, termasuk Laut Natuna Utara dan beberapa bagian Laut Sulawesi.

Wilayah perairan lainnya yang masuk kategori OCNL meliputi:

• Samudra Hindia barat Aceh

• Samudra Hindia barat Bengkulu

• Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai

• Samudra Hindia barat Kepulauan Nias

• Samudra Pasifik utara Maluku

• Samudra Pasifik utara Papua

• Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.

BMKG juga memasukkan sejumlah wilayah di sekitar jalur pelayaran barat Indonesia dalam kategori OCNL. Wilayah tersebut antara lain Selat Karimata bagian utara, Selat Malaka bagian tengah, dan Selat Malaka bagian utara.

BMKG menjelaskan, awan Cumulonimbus perlu mendapat perhatian karena merupakan jenis awan yang berkaitan dengan pertumbuhan cuaca signifikan. Termasuk, kondisi yang dapat memengaruhi aktivitas penerbangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....