Kepala BPOM: AI Percepat Penemuan Obat dan Perkuat Pengawasan
- 22 Sep 2026 15:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai dapat mempercepat proses penemuan dan pengembangan obat sekaligus meningkatkan efisiensi pengawasan produk.
- AI adalah alat bantu untuk memudahkan pekerjaan karena data yang harus diproses bisa mencapai jutaan bahkan miliaran.
- Pemanfaatan AI juga memungkinkan BPOM mengolah data yang dihasilkan setiap tahun untuk mendukung penyusunan standar pengawasan yang semakin presisi.
RRI.CO.ID, Beijing - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mempercepat proses penemuan dan pengembangan obat. Sekaligus meningkatkan efisiensi pengawasan produk.
“Dengan menggunakan AI, proses pengujian obat dapat dilakukan lebih cepat, misalnya melalui uji praklinis dan simulasi. Dengan demikian, proses penemuan obat dapat dipercepat,” kata Taruna Ikrar di Beijing, Minggu 21 September 2026.
Taruna berada di Beijing untuk bertemu dengan sejumlah mitra, termasuk National Medical Products Administration (NMPA) atau otoritas pengawas obat dan makanan China. Ia juga menjadi pembicara dalam seminar kesehatan yang diselenggarakan Universitas Tsinghua serta bertemu dengan pelaku industri medis.
Menurut Taruna, pengembangan obat baru merupakan proses panjang yang mencakup identifikasi molekul awal atau hit molecule, validasi molekul, pemilihan kandidat obat, uji praklinis in vitro dan in vivo, hingga uji klinis fase I sampai III pada manusia.
AI, kata dia, dapat dimanfaatkan dalam berbagai tahapan tersebut, terutama untuk mendeteksi dan menganalisis partikel, protein, reseptor. Serta melakukan simulasi yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar.
“AI adalah alat bantu untuk memudahkan pekerjaan karena data yang harus diproses bisa mencapai jutaan bahkan miliaran. Dengan teknologi ini, prosesnya menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus membantu mengurangi potensi human error,” ujarnya.
Selain mempercepat penemuan obat, AI juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengawasan terhadap peredaran produk obat. Salah satunya melalui teknologi barcode untuk melacak distribusi produk.
“Dengan AI, kita dapat melacak produk, misalnya melalui barcode, sehingga dapat diketahui pergerakan produk, distribusinya, hingga penggunaannya. Ini justru dapat memperkuat aspek keamanan,” kata Taruna.
Ia menambahkan China telah memanfaatkan AI dalam berbagai aspek pengaturan dan pengawasan obat. Pengalaman tersebut, menurut dia, dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem pengawasan berbasis teknologi.
Taruna menyampaikan AI juga berpotensi membantu regulator meningkatkan efisiensi, mempermudah proses sertifikasi, serta membuat layanan regulasi lebih efektif dan praktis. Hal ini disampaikan dalam seminar bertajuk “AI + New Medical Technology Conference” yang merupakan bagian dari International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum di Universitas Tsinghua.
“Di BPOM, di bawah kepemimpinan saya, kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses. Mulai dari sistem barcode, proses registrasi, hingga mendukung penelitian dan uji klinis yang dilakukan para ilmuwan,” ujarnya.
Pemanfaatan AI juga memungkinkan BPOM mengolah data yang dihasilkan setiap tahun untuk mendukung penyusunan standar pengawasan yang semakin presisi. “Dengan demikian, kami dapat lebih yakin bahwa suatu produk aman dan layak tersedia bagi masyarakat, itulah salah satu peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan regulasi,” kata Taruna.
Menurut dia, pemanfaatan AI di lingkungan BPOM terus dikembangkan pada berbagai proses, mulai dari registrasi, sertifikasi, distribusi, hingga pengelolaan administrasi. “Kecerdasan buatan sangat penting untuk membantu pengelolaan proses tersebut dan mengurangi kesalahan manusia karena teknologi ini dapat bekerja dengan lebih presisi,” katanya.
Meski demikian, Taruna menegaskan AI tetap merupakan instrumen pendukung dalam proses pengawasan. Aspek keamanan, mutu, dan manfaat produk tetap menjadi dasar dalam setiap keputusan regulasi BPOM.
“AI itu alat atau instrumen. Yang jelas, Badan POM memastikan bahwa produk yang diberikan izin memenuhi persyaratan keamanan,” ujar Taruna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....