BPOM: AI Bisa Percepat Penemuan Obat dan Kurangi Human Error

  • 20 Sep 2026 21:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala BPOM menyebut kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses penemuan obat. Sekaligus meningkatkan efisiensi pengawasan produk kesehatan.
  • Menurut Taruna, AI dapat digunakan dalam sejumlah tahapan pengembangan obat, termasuk pengujian praklinis dan simulasi.
  • BPOM menilai pemanfaatan AI juga memberikan manfaat dalam proses administrasi pemerintahan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebut kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses penemuan obat. Sekaligus meningkatkan efisiensi pengawasan produk kesehatan.

Menurut Taruna, AI dapat digunakan dalam sejumlah tahapan pengembangan obat, termasuk pengujian praklinis dan simulasi. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat memangkas waktu dalam proses penemuan obat baru yang selama ini membutuhkan tahapan panjang.

"Ada proses pengujian obat yang lebih cepat dengan menggunakan AI, misalnya uji preklinis, uji simulasi, dan sebagainya dengan simulasi AI. Dengan demikian akan mempercepat penemuan obat," kata Taruna Ikrar di Beijing, Minggu 20 September 2026.

Taruna berada di Beijing untuk bertemu dengan sejumlah mitra, termasuk National Medical Products Administration (NMPA) atau otoritas pengawas obat China. Ia juga menjadi pembicara dalam seminar kesehatan yang digelar Universitas Tsinghua dan bertemu dengan sejumlah pelaku industri medis.

Ia menjelaskan, pengembangan obat baru harus melewati proses panjang melalui skema Investigational New Drug (IND). Tahapan tersebut dimulai dari identifikasi molekul yang berinteraksi dengan sasaran biologis atau molecule hit dengan menyaring jutaan molekul.

Setelah itu, dilakukan validasi molekul hit, pemilihan kandidat obat, uji praklinis secara in vitro menggunakan sel di laboratorium dan in vivo menggunakan hewan percobaan. Hingga uji klinis fase I sampai III pada manusia serta tahapan pengujian lainnya.

Menurut Taruna, AI dapat membantu mempercepat sejumlah proses tersebut, termasuk mendeteksi partikel, protein, dan reseptor yang menjadi sasaran obat. "Termasuk dalam hal untuk mendeteksi partikel, protein dan reseptornya, itu bisa dengan menggunakan AI, itulah gunanya," ujarnya.

Pemanfaatan AI, lanjutnya, tidak hanya terbatas pada pengembangan obat. Teknologi tersebut juga berpotensi digunakan dalam pengembangan produk pangan, termasuk teknologi pengembangan sel sebagai alternatif sumber pangan di masa depan.

Taruna mengatakan China telah banyak memanfaatkan AI dalam pengaturan dan pengawasan obat. Menurutnya, Indonesia dapat mempelajari penerapan teknologi tersebut untuk memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan.

"AI adalah alat bantu untuk memudahkan kita karena dengan pekerjaan yang jumlahnya jutaan, bahkan miliaran, bisa lebih cepat. Itu membantu, yang kedua, human error-nya berkurang," katanya.

Selain mempercepat pengembangan obat, Taruna menyebut AI dapat digunakan untuk melacak peredaran produk obat di masyarakat.

Salah satunya melalui pemanfaatan barcode yang memungkinkan regulator mengetahui perjalanan suatu produk, mulai dari distribusi hingga lokasi penggunaannya.

"Lewat AI, artificial intelligence, kita bisa lacak misalnya dengan menggunakan barcode, jadi tahu produknya sudah sampai di mana, produknya digunakan di mana, siapa penggunanya, dan lainnya. Itu justru lebih aman," ujarnya.

Ia menegaskan penggunaan AI tidak berarti mengurangi standar keamanan yang diterapkan BPOM. Teknologi tersebut, kata dia, merupakan instrumen pendukung bagi regulator dalam mengambil keputusan.

"AI itu adalah alat, instrumen, tidak perlu takut. Yang jelas, Badan POM sudah memastikan kita tidak akan mengesahkan sesuatu yang tidak aman," ucapnya.

Dalam seminar bertajuk "AI + New Medical Technology Conference" pada International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum yang diselenggarakan Universitas Tsinghua, Taruna juga memaparkan penerapan AI dalam sistem regulasi obat. Dan juga makanan di Indonesia.

Ia mengatakan AI dapat membantu regulator meningkatkan efisiensi, mempermudah proses sertifikasi. Serta membuat pelayanan regulasi lebih efektif dan praktis.

"Di BPOM, di bawah kepemimpinan saya, kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses. Mulai dari sistem bar code dan proses registrasi hingga penelitian serta uji klinis yang dilakukan para ilmuwan," kata Taruna.

Menurut dia, penerapan AI juga memungkinkan data yang dihasilkan BPOM setiap tahun dianalisis secara lebih mendalam. Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan standar pengawasan yang lebih presisi.

"Dengan demikian, kami dapat lebih yakin bahwa suatu produk aman dan layak tersedia bagi masyarakat. Itulah peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan regulasi," ujarnya. Taruna menambahkan, penerapan AI kini telah mencakup berbagai unit di BPOM, mulai dari proses registrasi, sertifikasi hingga distribusi.

"Kecerdasan buatan sangat penting untuk membantu pengelolaan proses tersebut dan mengurangi kesalahan manusia. Karena teknologi ini dapat bekerja dengan lebih presisi," katanya.

Ia menilai pemanfaatan AI juga memberikan manfaat dalam proses administrasi pemerintahan. Menurutnya, penerapan sistem digital tersebut turut meningkatkan kualitas pelayanan BPOM kepada masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....