Pemerintah Tingkatkan Anggaran Mitigasi Bencana di Indonesia
- 22 Sep 2026 14:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perubahan Paradigma Bencana: Pemerintah menggeser fokus penanganan dari darurat reaktif menjadi mitigasi pra-bencana dengan mengalokasikan penguatan anggaran serta pengadaan teknologi peringatan dini.
- Edukasi Kesiapsiagaan Mandiri: Bakom RI menekankan pentingnya peningkatan literasi bencana dan sosialisasi rumus keselamatan di wilayah rawan gempa, tsunami, serta erupsi gunung api.
- Perlindungan Kelompok Rentan: Strategi mitigasi nasional memprioritaskan keselamatan lansia, anak-anak, dan disabilitas melalui penyediaan jalur evakuasi yang responsif di daerah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia memperkuat strategi mitigasi bencana alam secara komprehensif di tengah ancaman gempa bumi dan gunung api pada September 2026. Langkah ini bertujuan menggeser paradigma penanganan krisis dari pola reaktif darurat menuju upaya pencegahan dini secara terstruktur.
Indonesia berada di jalur wilayah cincin api (Ring of Fire) yang memiliki lebih dari 120 gunung api aktif serta ratusan sesar gempa. Tingginya risiko tersebut menuntut peningkatkan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat guna menekan potensi dampak korban jiwa.
Tenaga Ahli Bakom RI, Dr. Muhammad Hidayat, menyampaikan bahwa pemerintah terus memetakan kawasan rawan erupsi dan potensi ancaman tsunami di Selat Sunda. Menurutnya, kesiapan infrastruktur evakuasi serta simulasi darurat harus diperkuat hingga tingkat desa secara konsisten.
"Bapak Presiden menginstruksikan bahwa mitigasi bencana harus diperkuat dan pengalokasian anggaran prabencana ditingkatkan secara signifikan," kata Muhammad Hidayat, sebagaimana dilansir dari Youtube RRI Pro3, Selasa, 22 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa ancaman bencana tidak hanya terbatas pada letusan gunung api, tetapi juga mencakup potensi gempa bumi dari 400 sesar aktif. Edukasi evakuasi mandiri dinilai menjadi kunci penting dalam menyelamatkan masyarakat pesisir maupun wilayah perbukitan.
Selain kesiapan fisik, pemerintah turut mengadopsi formula penyelamatan diri seperti panduan bertindak saat gempa berskala besar terjadi. Penerapan rumus keselamatan 20-20-20 terus disosialisasikan secara masif kepada masyarakat yang tinggal di pesisir pantai.
Langkah mitigasi juga memfokuskan perlindungan khusus bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas saat evakuasi. Sinergi antara pemerintah daerah serta komunitas lokal dipandang vital untuk membangun ekosistem tangguh bencana.
"Kita harus mengubah paradigma kebencanaan dengan memperkuat kapasitas literasi masyarakat. Agar risiko krisis dapat diminimalkan," ujar Muhammad Hidayat menambahkan.
Peningkatan anggaran mitigasi diharapkan mampu menopang penyediaan teknologi peringatan dini yang lebih akurat di berbagai daerah. Keterlibatan sektor akademisi dan media massa turut dikonsolidasikan untuk memperluas jangkauan edukasi publik.
Melalui transformasi strategi pra-bencana yang terintegrasi, pemerintah optimistis ketahanan masyarakat Indonesia semakin kokoh. Upaya perlindungan keselamatan jiwa terus menjadi komitmen prioritas dalam pembangunan ketahanan nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....