Mentan Siapkan 2 Juta Hektare Bioetanol
- 21 Sep 2026 22:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amran menyiapkan pengembangan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung hingga 2 juta hektare
- Pemerintah akan mengembangkan kawasan pertanian terintegrasi dengan industri pengolahan bioetanol
- Pengembangan kawasan melibatkan BUMN, swasta, dan masyarakat melalui skema kemitraan
- Kementan menyiapkan percontohan jagung seluas 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten
- Pemerintah menggandeng 44 bupati untuk memetakan potensi lahan dan kesiapan wilayah
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyiapkan pengembangan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung hingga dua juta hektare. Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku sekaligus mendukung kemandirian energi.
Amran mengatakan pembangunan industri bioetanol harus diawali dengan kepastian bahan baku. Karena itu, pemerintah akan mengembangkan kawasan pertanian dalam skala besar dan terintegrasi dengan industri pengolahan.
“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujar Amran usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati di Jakarta, Senin 21 September 2026.
Tiga komoditas tersebut dikembangkan sesuai potensi masing-masing daerah. Tebu menjadi fokus utama, sementara singkong dan jagung dikembangkan pada wilayah yang sesuai dengan produktivitas tinggi.
“Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol,” ucap Amran.
Pemerintah akan mengonsolidasikan lahan sebelum pembangunan industri dilakukan secara masif. Pembiayaan industri nantinya dapat melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta.
“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” katanya.
Amran memastikan pengembangan kawasan bioetanol harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemerintah akan mendorong skema kemitraan agar masyarakat memperoleh bagian dalam pertumbuhan kawasan pertanian dan industri.
“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat,” ucap Amran.
Pada tahap awal, Kementan memperkuat pengembangan jagung melalui percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan. Luasan awal dapat mencapai 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten dan diperluas hingga 1.500 hektare jika produksinya baik.
Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) disiapkan untuk memperkuat produktivitas kawasan. Sementara itu, pengembangan tebu diarahkan dalam skala lebih besar dengan kebutuhan lahan mencapai satu juta hektare.
Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan mengutamakan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas. Pemerintah juga memastikan pengembangan bioetanol tetap memperhatikan aspek lingkungan, dengan pelepasan kawasan hutan menjadi pilihan terakhir.
Amran mengatakan pengembangan bioetanol juga berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru berbasis pertanian. Rantai tersebut mencakup budidaya komoditas, pengolahan hasil, pembangunan industri, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen. Hebat kan,” ujarnya.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan penggunaan etanol dalam bahan bakar secara bertahap. Target yang disebut Amran mencakup E5, E10, dan E20 pada 2029, kemudian menuju E40 pada 2030 atau 2031.
Untuk mempercepat program, Kementan menggandeng 44 bupati dalam konsolidasi pengembangan kawasan. Pemerintah daerah diminta memetakan potensi lahan, komoditas, dan kesiapan wilayah untuk mendukung rantai pasok bioetanol nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....