IHSG Sesi I Ditutup Melemah 0,27 Persen ke 6.423, Berbalik Arah Setelah Pembukaan

  • 21 Sep 2026 13:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup melemah 0,27 persen ke level 6.423,51 pada sesi I perdagangan Senin.
  • Phintraco memprakirakan IHSG bergerak konsolidasi di kisaran 6.400 hingga 6.550.
  • Investor mencermati keputusan BI Rate, kebijakan The Fed, harga minyak, dan perkembangan geopolitik global.

RRI.CO.ID, Jakarta - IHSG ditutup melemah 17,65 poin atau 0,27 persen ke level 6.423,51 pada sesi I perdagangan Senin, 21 September 2026. Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat tipis ke level 6.446,90.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.388,25 hingga 6.451,33 selama sesi pertama. Indeks sempat berada di zona positif sebelum berbalik melemah hingga penutupan sesi I.

Aktivitas perdagangan pada sesi I mencapai 1,06 juta kali transaksi. Volume perdagangan tercatat sebanyak 14,29 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp5,75 triliun.

Sebanyak 329 saham tercatat menguat, sedangkan 291 saham melemah. Sementara itu, 168 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak konsolidasi pada perdagangan Senin. Secara teknikal, IHSG diprakirakan bergerak dalam rentang 6.400 hingga 6.550.

“Hari ini, secara teknikal, IHSG diprakirakan konsolidasi di kisaran level 6.400-6.550, jika tembus level 6.400. Untuk itu IHSG akan menguji level 6.300-6.350,” kata Tim Phintraco, Senin, 21 September 2026.

Pelaku pasar juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu. Phintraco memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.

Selain keputusan suku bunga, investor menantikan data pertumbuhan kredit Agustus 2026. Pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 15 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Juli yang tercatat 13,58 persen.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat dan Asia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. “Imbal hasil US Treasury berbalik menguat karena ekspektasi kebijakan The Fed yang masih akan hawkish atau ketat hingga tahun depan,” ujar Tim Phintraco.

Di Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 1995.

Sementara itu, harga minyak dunia masih berada di sekitar 100 dolar AS per barel meski mengalami penurunan. Harga minyak WTI ditutup turun 1,6 persen menjadi 100 dolar AS per barel.

“Konflik di Timur Tengah berpotensi masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa saham global. Terutama melalui harga minyak, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga,” ujar Tim Phintraco.

Investor juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 23-25 September 2026 juga menjadi perhatian pasar.

Pergerakan IHSG pada sesi II selanjutnya akan menjadi perhatian investor setelah indeks ditutup melemah pada sesi pertama. Pelaku pasar akan mencermati sentimen global dan perkembangan kebijakan moneter yang dapat memengaruhi pasar saham domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....