IHSG Dibuka Menguat Tipis ke Level 6.446
- 21 Sep 2026 09:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka menguat tipis pada Senin, 21 September 2026 dengan posisi di level 6.446,89, naik 5,74 poin dari penutupan Jumat sebelumnya.
- Investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp1,78 triliun pada akhir pekan lalu yang menyebabkan IHSG ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441,15.
- Pergerakan pasar saham Indonesia menunjukkan ketidakstabilan dengan penguatan tipis pada pembukaan setelah melemah signifikan pada akhir pekan berkat tekanan dari investor asing.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat tipis pada perdagangan Senin, 21 September 2026. IHSG berada di level 6.446,89, naik sekitar 5,74 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat.
Pada akhir pekan lalu, IHSG ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441,15. Pelemahan tersebut disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,78 triliun.
Sejumlah saham menjadi sasaran aksi jual investor asing. Saham tersebut antara lain BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG bergerak konsolidasi pada perdagangan hari ini. Secara teknikal, IHSG diperkirakan berada dalam rentang 6.400 hingga 6.550.
“Hari ini, secara teknikal, IHSG diprakirakan konsolidasi di kisaran level 6.400-6.550, jika tembus level 6.400. Untuk itu IHSG akan menguji level 6.300-6.350,” kata Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas, Senin, 21 September 2026.
Pelaku pasar juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu. Phintraco memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Selain keputusan suku bunga, investor menantikan data pertumbuhan kredit Agustus 2026. Pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 15 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Juli yang tercatat 13,58 persen.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat dan Asia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones melemah seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun lebih dari lima basis poin hingga sekitar lima persen.
“Imbal hasil US Treasury berbalik menguat karena ekspektasi kebijakan The Fed yang masih akan hawkish atau ketat hingga tahun depan,” ujar Tim Phintraco.
Di Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 1995.
Sementara itu, harga minyak dunia masih berada di sekitar 100 dolar AS per barel meski mengalami penurunan. Harga minyak WTI ditutup turun 1,6 persen menjadi 100 dolar AS per barel, sedangkan Brent melemah 0,9 persen menjadi 103 dolar AS per barel.
Phintraco menilai harga minyak yang masih tinggi berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Selain itu, konflik di Timur Tengah masih menjadi sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.
“Konflik di Timur Tengah berpotensi masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa saham global. Terutama melalui harga minyak, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga,” ujar Tim Phintraco.
Investor juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 23-25 September 2026 juga menjadi perhatian pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....