Kemenhub dan DGAC Prancis Perkuat Pengawasan Keselamatan Penerbangan Indonesia
- 19 Sep 2026 14:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ditjen Hubud dan DGAC Prancis memperkuat kerja sama teknis untuk meningkatkan kapasitas pengawasan keselamatan penerbangan Indonesia
- Kerja sama memasuki fase Sustainable Oversight System, mencakup Specific Approvals, Low Visibility Operations, SMS Assessment, Risk Assessment, dan State Safety Programme
- Indonesia bersiap menghadapi audit ICAO USOAP pada 2027, dengan penguatan kompetensi inspektur dan kapasitas kelembagaan sebagai bagian penting
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memperkuat kerja sama teknis dengan otoritas penerbangan sipil Prancis untuk meningkatkan pengawasan keselamatan. Kerja sama tersebut memasuki fase baru dengan fokus membangun Sustainable Oversight System secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengapresiasi komitmen Direction Générale de l’Aviation Civile (DGAC) Prancis, Airbus, serta para tenaga ahli teknis. Ia menilai dukungan tersebut penting untuk memastikan peningkatan kapasitas pengawasan keselamatan penerbangan Indonesia.
"Keberhasilan kerjasama teknis ini bukan dilihat dari seberapa banyak pertemuan, misi, lokakarya, atau pelatihan yang sudah dijalankan. Tapi dari sejauh mana hal itu benar-benar meningkatkan kapasitas safety oversight kita, dan sejauh mana peningkatan itu bisa kita jaga ke depannya," ujar Lukman dalam Steering Committee Meeting ke-11 antara Ditjen Hubud dan DGAC Prancis, di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026.
Lukman menjelaskan kerja sama penerbangan sipil Indonesia dan Prancis telah berlangsung sejak 2019 melalui Technical Cooperation Agreement. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kompetensi inspektur, standardisasi, hingga penguatan manajemen mutu.
Memasuki 2026, kerja sama diarahkan membangun Sustainable Oversight System sebagai bagian penguatan sistem pengawasan keselamatan penerbangan. Indonesia juga bersiap menghadapi audit ICAO USOAP yang diperkirakan berlangsung pada 2027.
Ia menyebut sejumlah area prioritas tengah dikembangkan melalui kerja sama teknis kedua negara. Area tersebut mencakup Specific Approvals, Low Visibility Operations, SMS Assessment, Risk Assessment, serta Personnel Licensing Examination Process.
Pengembangan State Safety Programme juga menjadi bagian dari agenda kerja sama untuk memperkuat pengawasan keselamatan penerbangan Indonesia. Lukman menilai kegiatan teknis perlu diterapkan, diuji, dan dievaluasi langsung dalam sistem kelembagaan Ditjen Hubud.
"Lewat kerjasama ini, kami berharap kedua otoritas penerbangan sipil bisa terus saling berbagi pengalaman dan keahlian. Sehingga kapasitas safety oversight kita semakin kompeten, terstandardisasi, berbasis risiko, terkoordinasi, dan berkelanjutan," ucap Lukman.
Lukman juga menyoroti tantangan berupa keterbatasan sumber daya, pelatihan inspektur, serta koordinasi antara direktorat dan unit teknis. Ia mendorong seluruh unit memperkuat koordinasi dengan tetap memastikan tanggung jawab utama safety oversight berada di Indonesia.
Kerja sama jangka panjang juga mencakup Safety Risk-Based Surveillance dan penguatan State Safety Programme. Selain itu, pemerintah mendorong penyusunan Competence-Based Training and Assessment framework bagi para inspektur penerbangan.
Sementara itu, Asia Pacific Cooperation Director DGAC France Thibaut Lallemand mengapresiasi pembahasan konstruktif dan komitmen kedua pihak dalam kerja sama tersebut. Ia melihat kemajuan pada Specific Approvals, SMS Assessment, Risk Assessment, Personnel Licensing Examination Process, dan State Safety Programme.
"Kegiatan-kegiatan ini penting. Karena langsung berkontribusi pada penguatan kapasitas safety oversight Indonesia," ujar Thibaut Lallemand.
Thibaut menegaskan audit ICAO USOAP 2027 merupakan salah satu tonggak dalam penguatan sistem keselamatan penerbangan Indonesia. Menurutnya, dukungan internasional perlu menghasilkan pengetahuan dan pengalaman yang tertanam sebagai kapasitas kelembagaan Ditjen Hubud.
"Pengetahuan harus menjadi kompetensi. Kompetensi harus menjadi kebiasaan kerja yang konsisten. Dan kebiasaan kerja yang konsisten itu yang akan menjadi kapasitas kelembagaan yang bertahan lama. Itulah hasil yang harus kita capai bersama," katanya.
Melalui Steering Committee Meeting ke-11, Ditjen Hubud menegaskan komitmen memperkuat kemitraan internasional dalam penerbangan sipil. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mewujudkan sistem penerbangan Indonesia yang selamat, aman, andal, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....