Presiden Prabowo Waspadai Demokrasi Bisa Dibajak dan Dibeli

  • 19 Sep 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto memperingatkan bahwa demokrasi dapat dibajak oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan ekonomi besar melalui penggunaan uang.
  • Menurut Presiden, uang dapat digunakan untuk memengaruhi proses politik dan berbagai institusi negara, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kehati-hatian.
  • Peringatan ini disampaikan Presiden saat menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kehati-hatian karena demokrasi dapat dibajak oleh pihak yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Menurut Presiden, uang dapat digunakan untuk memengaruhi proses politik hingga berbagai institusi negara.

“Saudara-saudara, tapi kita harus hati-hati bahwa demokrasi bisa dibajak. Demokrasi bisa dibeli,” ujar Presiden saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Presiden mengatakan ancaman tersebut terutama berasal dari pihak yang memiliki kekuatan ekonomi dan uang dalam jumlah besar. Ia juga menyinggung kekayaan yang diperoleh melalui cara yang tidak halal sebagai salah satu sumber ancaman.

“Mereka-mereka yang punya kekuatan ekonomi besar, mereka-mereka yang punya uang banyak. Terutama mereka-mereka yang uangnya didapat dengan cara tidak halal,” kata Presiden.

Menurut Presiden, kekuatan finansial tersebut dapat digunakan untuk memengaruhi sejumlah pihak dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Ia menyebut tokoh politik hingga aparat penegak hukum dapat menjadi sasaran upaya tersebut.

“Mereka mau membajak demokrasi kita, mereka mau menyogok tokoh-tokoh politik kita. Mereka mau membelinya, nyogok hakim, nyogok jaksa, nyogok jenderal, nyogok menteri, mereka mau nyogok presiden,” ujarnya.

Kepala Negara juga menyoroti perkembangan teknologi dan media sosial yang menurutnya dapat digunakan untuk memengaruhi masyarakat. Ia menyebut algoritma, buzzer, dan akun robot dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang dinilai merusak.

Presiden mengatakan pengaruh melalui media sosial menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi demokrasi di era sekarang. Menurutnya, masyarakat perlu mewaspadai informasi yang digunakan untuk memengaruhi pandangan publik.

“Rakyat kita dirusak, coba mereka pengaruhi dengan fitnah. Alhamdulillah rakyat kita tidak bodoh,” kata Presiden.

Kepala Negara kemudian mengaitkan ancaman tersebut dengan bentuk peperangan modern. Ia mengatakan konflik tidak selalu dilakukan melalui pengerahan pasukan, tetapi dapat diawali dengan upaya memengaruhi masyarakat melalui informasi.

“Perang sekarang tidak perlu dengan kirim pasukan banyak. Pertama, mereka rusak dulu dengan media sosial yang tidak benar,” ucapnya.

Meski menyampaikan kekhawatiran tersebut, Presiden menegaskan dirinya mendukung demokrasi dan reformasi. Ia juga mengingatkan bahwa PAN memiliki sejarah dalam gerakan reformasi.

“Kita, cita-cita kita sama, kita ingin demokrasi. Jangan salah, saya di tentara, saya mendukung demokrasi, saya mendukung reformasi,” kata Presiden.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....