Lebih Sehat dan Hemat, Bike to Work Jadi Kebiasaan Pekerja IMIP
- 18 Sep 2026 10:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kesya mulai bike to work sejak awal 2025 setelah merasa membutuhkan aktivitas fisik di tengah rutinitas kerja.
- Fikriyanto Rauf beralih menggunakan sepeda sejak Maret 2026 setelah sepeda motornya berulang kali mengalami kerusakan.
- Bersepeda membantu keduanya menjaga kebugaran, menghemat pengeluaran, membangun pertemanan, dan mengurangi penggunaan bahan bakar.
RRI.CO.ID, Morowali – Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menampilkan kebiasaan bersepeda di kalangan pekerjanya. Sejumlah karyawan memilih sepeda untuk menunjang produktivitas sekaligus menjaga kelestarian alam.
Kawasan industri di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, menjalankan aktivitas produksi selama 24 jam setiap hari. Rutinitas tersebut terkadang menimbulkan kejenuhan, terutama bagi pekerja dengan aktivitas fisik yang terbatas.
Kondisi itu dirasakan Kesya (27), pekerja perempuan di Divisi Chemical Analyst Departemen Testing Center PT TTRI. Rutinitasnya sebagai analis laboratorium membuat Kesya sebelumnya mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja selama tiga tahun.
“Saya awalnya cuma ingin memanfaatkan waktu untuk berolahraga karena setiap hari kerja kurang kegiatan fisik. Lalu saya terpikir, rasanya bagus sebelum pergi kerja sambil berolahraga,” katanya dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 18 September 2026.
Kebosanan mulai dirasakan Kesya ketika bekerja di laboratorium maupun setelah kembali ke indekosnya di Bahomakmur. Dari kondisi tersebut, ia mulai menjalankan hobi bersepeda di sekitar Bahodopi pada akhir 2024.
Sebulan berselang, sejak awal 2025, Kesya memutuskan menggunakan sepeda sebagai moda transportasi menuju tempat kerja. Keinginannya menjalani bike to work semakin kuat setelah berkunjung ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
“Di Makassar banyak orang bike to work, jadi kayaknya seru bersepeda. Mumpung lagi cuti di Makassar, jadi belilah sepeda di sana,” ujarnya.
Kesya berasal dari Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Setelah memiliki sepeda gunung idamannya, ia menjalani bike to work sekurangnya empat hari setiap pekan.
Frekuensi tersebut tetap menyesuaikan kondisi cuaca dan fisiknya sebelum berangkat bekerja. Kesya biasanya berangkat dua jam sebelum jadwal kerja agar lebih nyaman dan tidak terburu-buru.
Perjalanan bersepeda menuju terminal bus IMIP rata-rata ditempuh sekitar 15 hingga 20 menit. Setelah tiba, Kesya melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja menggunakan fasilitas bus perusahaan.
“Misalnya shift pagi saya masuk jam tujuh, pasti sudah berangkat jam lima subuh. Kalau shift sore, saya berangkat jam satu siang,” katanya.
“Kalau shift malam juga begitu, berangkat jam sembilan. Jadwal mulai kerja saya jam sebelas malam,” ujarnya.
Kegiatan bersepeda kemudian menginspirasi Kesya membuat dan membagikan konten video blog atau vlog. Konten pertamanya dipublikasikan melalui TikTok pada Juni 2025 dan berhasil menarik banyak penonton.
“Karena ternyata FYP, ya lanjut. Dapat uang kan? tiba-tiba motivasiku bertambah satu lagi, mengajak orang lain naik sepeda,” ucapnya.
Ubah Masalah Jadi Kebiasaan Baru
Cerita serupa dialami Fikriyanto Rauf (26), yang awalnya tidak memilih sepeda untuk berangkat bekerja. Fikri bekerja di PT Guangchingde Metal Rolling (GCDMR), Departemen Rolling Stainless Steel (RSS), bagian Control Room.
Ia mulai mengayuh sepeda setelah sepeda motornya berkali-kali mengalami kerusakan. Kendaraan yang sudah diservis kembali bermasalah hingga membutuhkan biaya perbaikan dan penggantian suku cadang.
Biaya tersebut bahkan mencapai lebih dari Rp3 juta sebelum Fikri memutuskan membawa motornya pulang. Kendaraan itu kemudian dikirim ke kampung halamannya di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Fikri lalu membeli sepeda dengan harga sekitar Rp2 juta sebagai pengganti kendaraan hariannya. Sejak Maret 2026, sepeda menjadi bagian dari kebiasaan berangkat kerja sekaligus berolahraga.
Pilihan tersebut semakin mantap setelah Fikri mempertimbangkan pengeluaran bahan bakar selama menggunakan sepeda motor. Biaya perjalanan dapat ditekan dan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain maupun ditabung.
Bersepeda juga membantu Fikri menghindari kepadatan lalu lintas pada sejumlah ruas menuju tempat kerjanya. Lokasi tersebut berada di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel di Morowali.
“Kalau dipikir-pikir, karena harga premium naik, pakai motor mungkin akan lebih banyak pengeluaran. Maka saya coba mengirit-iritlah dengan naik sepeda,” katanya.
Kebiasaan tersebut kemudian mempertemukan Fikri dengan lingkungan sosial baru melalui komunitas pesepeda di Bahodopi. Ia bergabung bersama Dopi Bike yang menjadi ruang berteman dan bersepeda bersama.
Anggota komunitas juga saling membantu ketika sepeda mengalami berbagai masalah selama digunakan. Solidaritas tersebut terlihat ketika mereka memperbaiki rantai lepas maupun mengganti ban secara bersama-sama.
Fikri dan Kesya kemudian merasakan manfaat bike to work terhadap kebugaran serta produktivitas sehari-hari. Setelah lebih aktif bergerak, berat badan Kesya berangsur turun dan tubuhnya terasa semakin bugar.
Kesya juga merasa tidak mudah mengantuk ketika bekerja setelah rutin melakukan aktivitas fisik. Sementara Fikri menjadikan bersepeda sebagai hobi tambahan ketika memasuki akhir pekan.
Menurut Kesya, penggunaan sepeda turut membantu mengurangi emisi kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil. Kebiasaan tersebut juga berhasil menekan konsumsi bahan bakar sepeda motornya.
“Sekarang saya isi satu liter bensin untuk motor bisa dipakai sampai satu minggu. Bahkan lebih, jauh lebih hemat,” katanya.
Bagi Kesya dan Fikri, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui sesuatu yang besar. Konsistensi menjalani satu demi satu kayuhan justru menghadirkan manfaat dan membentuk kebiasaan baru.
“Bersepeda itu rasanya senang, coba saja, dari situ kita bisa punya perubahan setiap hari. Minimal setiap tahun sebaiknya ada yang berubah lebih baik dari diri kita,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....