Cara Menghindari Hoaks di tengah Banjirnya Informasi Digital

  • 18 Sep 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Derasnya arus informasi digital melalui aplikasi percakapan online dan media sosial membuat masyarakat perlu waspada terhadap keakuratan konten yang diterima.
  • Tidak semua informasi yang beredar di internet memiliki sumber yang jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan kebenaran sebelum menyebarkannya lebih lanjut.
  • Masyarakat harus berpikir kritis dan tidak langsung mempercayai informasi hanya berdasarkan judulnya yang terkesan meyakinkan agar terhindar dari hoaks.

RRI.CO.ID, Jakarta - Derasnya arus informasi digital membuat masyarakat menerima berbagai kabar melalui aplikasi percakapan online dan media sosial. Tidak semua informasi yang beredar di internet memiliki sumber yang jelas sehingga masyarakat harus memeriksa kebenarannya sebelum menyebarluaskan.

Agar terhindar dari hoaks, sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi hanya karena judulnya terkesan meyakinkan. Penting untuk berpikir kritis terlebih dahulu sebelum menentukan apakah konten tersebut memuat informasi valid atau tidak.

Informasi juga harus dibaca secara utuh, bukan sekedar membaca judul atau potongan unggahan dari media sosial. Judul provokatif terkadang mendorong pembaca untuk bereaksi cepat sebelum mengetahui konteks secara keseluruhan.

Kemudian periksa siapa pihak yang pertama kali mengedarkan informasi tersebut. Sumber resmi dari lembaga pemerintah seperti Kementerian Komunikasi dan Digital, organisasi terkait, media kredibel, atau pakar yang relevan bisa dijadikan pembanding.

Informasi juga sebaiknya dibandingkan dengan pemberitaan dari beberapa sumber yang dipercaya. Perbandingan tersebut dibutuhkan agar bisa melihat waktu kejadian, kesesuaian fakta, lokasi, dan keterangan dari pihak terkait.

Pemeriksaan tanggal juga dinilai penting karena informasi lama bisa kembali beredar dengan keterangan atau konteks yang berbeda. Foto ataupun video dari kejadian sebelumnya bahkan bisa digunakan untuk mendukung narasi yang tidak sesuai.

Foto yang beredar juga perlu diperiksa karena gambar dapat diedit atau digunakan kembali untuk mendukung informasi tertentu. Direkomendasikan melakukan pencarian gambar terbalik dan sejumlah alat verifikasi untuk memeriksa keaslian visual.

Hal serupa pun berlaku untuk video yang seringkali dipotong, diberi keterangan berbeda, atau diunggah kembali tanpa konteks apapun. Verifikasi bisa dilakukan dengan menelusuri kata kunci, tangkapan layar, dan juga sumber asli video tersebut.

Melansir UNICEF Indonesia, penting untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum meneruskannya kepada keluarga ataupun temanmu. Jika informasi belum bisa dipastikan kebenarannya, pilihan teraman adalah dengan tidak menyebarkannya kepada orang lain.

Kesimpulannya, menghindari misinformasi membutuhkan kebiasaan memeriksa informasi dan berpikir secara kritis sebelum mempercayai atau bahkan membagikannya. Dengan mengecek sumber serta membandingkan informasi dengan sumber lain, masyarakat bisa mengurangi tersebarnya penyebaran informasi yang menyesatkan. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....